Untuk sementara, kecemasan soal Eropa surut
Jakarta, Strategydesk - Dua bulan yang lalu, pasar keuangan dunia ketar-ketir dengan kemungkinan krisis fiskal Eropa membahayakan pemulihan ekonomi global. Kini, kekhawatiran itu berkurang, paling tidak untuk sementara.
Minggu lalu, Spanyol berhasil meraup 3 miliar euro dari penjualan obligasi berjangka waktu 15 tahun dengan tingkat bunga 5,1%. Meski bunga tersebut lebih tinggi dari lelang di April yang 4,4%, permintaan dalam lelang terakhir jauh lebih besar.
Di minggu yang sama, Moody’s Investor Service menurunkan peringkat Portugal dua tingkat karena melihat beban utangnya dan prospek pertumbuhan yang lesu. Namun, negara itu berhasil mendapatkan 1,68 miliar euro dari penjualan obligasi berjangka waktu 9 tahun. Sementara itu, Yunani, berhasil mengumpulkan 1,6 miliar euro dari lelang surat utang jangka pendek.
Sebelumnya, ketiga negara di atas diragukan mampu menyelenggarakan lelang surat utang skala besar. Kekhawatiran akan rendahnya permintaan menjadi faktor keraguan tersebut. Permintaan yang rendah akan mengguncang pasar keuangan karena menunjukan negara Eropa kesulitan mendapatkan pinjaman baru untuk membiayai operasionalnya.
Betapa cepatnya psikologi pasar berubah. Memang, banyak berita baik datang dari Eropa. Lelang obligasi yang sukses, kesepakatan mengurangi gaji di Yunani sebagai bagian upaya menghemat anggaran, dan indikasi industri Jerman tumbuh lebih pesat dari yang diperkirakan. Selain itu, ada faktor lain, indikasi perlambatan pemulihan ekonomi AS.
Dua bulan lalu, kondisi Eropa kontras dengan AS, yang terlihat sedang dalam pemulihan dari resesi. Namun, sejak itu, data ekonomi menunjukan perlambatan aktivitas dan tingkat pengangguran tetap tinggi.
Seiring pudarnya dampak stimulus dan berkurangnya lapangan kerja yang tercipta di sektor swasta, beberapa pejabat the Fed mulai menyatakan kekhawatiran mengenai ancaman deflasi. The Fed pun menurunkan proyeksi PDB AS tahun ini menjadi 3-3,5% dari sebelumnya 3,2-3,7%.
Tiba-tiba, Eropa terlihat lebih stabil dari AS, di mana ada isu mengenai double dip recession. Di Eropa, produksi dan output terus tumbuh, seperti yang terlihat di Jerman. Sedangkan di AS, aktivitas manufaktur melambat.
Euro, yang jatuh 15% terhadap dollar dalam 6 bulan pertama tahun ini dan sempat ke level terendah dalam 4 tahun terakhir, kini bertengger di level tertinggi dalam 2 bulan terakhir.
Meski demikian, para ekonom memperingatkan optimisme terhadap prospek Eropa bisa sementara, bila situasi berubah. Jumat nanti, regulator Eropa akan mengumumkan hasil stress test terhadap 91 bank, sebagai bagian upaya untuk mengurangi kecemasan pasar. Tes inilah yang menentukan sentimen pasar selanjutnya terhadap Eropa dan euro.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Dorong ekonomi, Obama ajukan program infrastruktur
- IMF lihat pemulihan ekonomi global berlanjut
- Inflasi lebih rendah dari prediksi
- Kinerja ekonomi AS semakin lesu
- Sentimen bisnis Jerman meningkat
- China lirik mata uang Asia
- Kapan China mengungguli ekonomi AS?
- Ekonomi Jepang melambat tajam
- The Fed terapkan QE terbatas
- The Fed rapat di tengah ancaman deflasi
- Ekonomi AS lesu, butuh stimulus lagi
- BI jajaki redenominasi rupiah.
- Sektor perumahan AS bisa picu resesi kedua
- Ancaman deflasi meningkat di AS
- Stress test Eropa kurang meyakinkan?



