The Fed dianggap lemahkan dollar
Jakarta, Strategydesk - Selama ini, Amerika selalu dipandang sebagai negara adidaya dengan ekonomi terbesar di dunia dan mata uangnya dollar yang menjadi acuan moneter global. Makanya, prediksi dari IMF bahwa China akan menggeser AS dalam lima tahun, cukup mengejutkan.
Industrialisasi dan buruh murah di emerging markets seperti China, ditambah dengan dua tahun krisis finansial, telah melemahkan ekonomi AS. Tapi, beberapa kalangan mempertanyakan apakah kebijakan moneter AS juga berperan.
“Salah satu masalah fundamental dengan ekonomi AS saat ini adalah the Fed berpikir jawabannya dari semua itu adalah mencetak uang,” kata Stephen Moore, ekonom senior dan salah satu editor di Wall Street Journal. Menurutnya, kegiatan pencetakan uang itu tidak banyak pengaruh ke lapangan kerja, tapi justru mendorong inflasi.
Program pembelian asset, atau yang disebut dengan Quantitative Easing (QE), menambah jumlah uang beredar tapi pengkritik mengatakan hal itu juga secara potensial menurunkan daya beli. Pengkritik juga berpandangan hal tersebut juga bisa mendevaluasi mata uang, sesuatu yang dianggap mereka sudash terjadi.
Meski bisa membuat ekspor AS lebih murah dan membantu mengurangi defisit perdagangan, untuk orang Amerika bisa membuat harga impor, mulai pangan, mobil sampai minyak, menjadi lebih mahal.
Tapi tidak semua sepakat kebijakan itu menyebabkan tekanan inflasi dan melemahkan dollar. Berbicara di New York dalam konferensi yang diselenggarakan IMF, Menteri Keuangan AS Timothy Geithner mengatakan dollar yang kuat adalah kepentingan AS, dan pihaknya tidak pernah menerapkan strategi melemahkan mata uang untuk mendapatkan keuntungan ekonomi dengan merugikan mitra dagang.
Pandangan Geithner itu diamini oleh ekonom dari Brookings Institute, Barry Bosworth, dengan mengatakan dollar belumlah runtuh. Menurutnya, dollar jatuh karena krisis finansial dan bangkit lagi, meski belum mencapai level sebelum krisis itu.
Meski harga BBM dan komoditas melonjak, inflasi belumlah terlihat di barang lain. Menurut data kompilasi Market Data Group dari Wall Street Journal, $1 tahun lalu sama dengan $1,02 hari ini. Jadi, sepasang sepatu yang berharga $100 pada 2010 kini bernilai $102,48.
Angka itu mungkin bisa mengurangi kecemasan banyak orang Amerika mengenai inflasi dan devaluasi dollar. Tapi Ketua the Fe Ben Bernanke punya rencana sendiri untuk mengatasi kekhawatiran bangsa. Dini hari nanti, Bernanke akan mengadakan jumpa pers pasca rapat regular, pertama dalan sejarah the Fed.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Tsipras: Progam penghematan harus dikaji ulang
- Mengenal sosok Francois Hollande
- Roubini: Liburan usai, krisis utang kembali
- Spanyol menuju krisis finansial pada 2013
- Menkeu Jerman: Dana talangan cukup, tak perlu tambah lagi
- Survei tunjukkan optimisme atas dollar
- Default & exit Yunani: Baik untuk euro, buruk bagi korporat
- Apa sebenarnya LTRO ECB?
- Krugman: Yunani kehabisan alternatif
- Meski Diprotes, Parlemen Yunani Setujui Penghematan
- Hemat anggaran, Yunani PHK 15.000 PNS
- Ekonomi masih jadi fokus kampanye pilpres AS
- IMF : Asia punya ruang untuk stimulus
- Roubini: Yunani keluar dari euro setahun lagi
- Draghi optimis tahun ini lebih baik



