The Fed bersiap luncurkan stimulus (lagi)?
Jakarta, Strategydesk - The Fed semakin dekat untuk melaksanakan kembali stimulus moneter minggu depan, di tengah lesunya ekonomi dan rendahnya inflasi, meski ada keraguan akan efektivitas langkah tersebut.
The Fed diperkirakan akan mengumumkan program pembelian aset senilai beberapa miliar dollar yang dilaksanakan selama beberapa bulan. Pengumuman itu kemungkinan dibuat pasca rapat regulernya Rabu depan.
Melalui langkah itu, the Fed berupaya untuk mendorong harga obligasi jangka panjang, yang akhirnya menekan bunga atau yield jangka panjang. Dengan ini, the Fed berharap dapat menggairahkan investasi dan pembelanjaan, yang dapat membantu pemulihan ekonomi.
Tapi the Fed kemungkinan akan menghindari agresivitas yang digunakan ketika krisis finansial, dan lebih condong ke pendekatan yang lebih halus. Pendekatan yang memberi ruang ke mereka untuk menyesuaikan kebijakan, dan kemungkinan menambah pembelian, selaras perkembangan ekonomi. The Fed sepertinya akan membuka kemungkinan untuk pembelian lebih lanjut di masa mendatang, terutama bila inflasi diproyeksikan tetap di bawah 2% dan tingkat pengangguran masih tinggi.
Dalam tubuh the Fed sendiri, rencana Ketuanya Ben Bernanke menghidupkan kembali program pembelian aset, atau yang lebih dikenal dengan Quantitative Easing (QE), disambut dengan skeptisme oleh para rekannya, di antaranya adalah Charles Plosser, Thomas Hoenig dan Richard Fisher. Perbedaan pandangan ini mengindikasikan akan adanya perdebatan sengit di antara pejabat the Fed dalam memutuskan stimulus tersebut.
Pasar sudah memfaktorkan the Fed akan meluncurkan QE kembali. Isu yang menjadi perdebatan saat ini adalah jumlahnya. Spekulasi yang beredar saat ini adalah pembelian mencapai $500 miliar yang dilaksanakan selama 6 bulan. Jumlah itu jauh lebih rendah dari QE jilid I yang mencapai $1,75 triliun.
Program pembelian kemungkinan difokuskan ke obligasi pemerintah, atau Treasury, dengan masa jatuh tempo antara 2 sampai 3 tahun, menurut wawancara dengan beberapa pejabatnya. The Fed bisa saja membeli obligasi yang lebih panjang dari itu, namun beberapa pejabat enggan melakukannya karena berpotensi merugikan tanpa ada manfaat tambahan.
Pasar akan mencermati rapat reguler yang akan dilaksanakan pada 2-3 Nopember nanti. Skala program akan menentukan seberapa agresif the Fed dalam menjaga pemulihan ekonomi. Keputusan itu akan berdampak ke arah dollar.
Menjelang rapat itu, pasar menantikan even yang tidak kalah pentingnya, pengumuman data PDB AS kuartal ketiga. Data ini tentunya menjadi salah satu pertimbangan the Fed dalam membuat keputusan nanti, dan mempengaruhi ekspektasi pasar soal QE.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Pemilu Yunani & euro
- Jadwal Earnings Jepang 30 Januari - 10 Februari 2012
- Jadwal Libur Pasar Keuangan AS, Asia 2012
- ECB terseret polemik krisis
- Bayang-bayang Lehman Brothers hantui politisi & bankir Eropa
- Negara pengutang terbesar di dunia
- Yunani sebaiknya keluar dari euro?
- Krisis utang Eropa yang belum juga tuntas
- Even penting minggu ini: RBA, BOJ, BOE & ECB
- Kaleidoskop 2010: Krisis utang Eropa
- Dapatkah QE 2 pulihkan ekonomi AS?
- The Fed bersiap luncurkan stimulus (lagi)?
- Akankah Jepang intervensi yen?
- Prospek ekonomi Eropa lebih baik dari AS?
- Pasar sambut earnings season



