Stress test Eropa kurang meyakinkan?
Jakarta, Strategydesk - Hasil stress test perbankan Eropa menunjukan 84 dari 91 bank dinyatakan lulus. Dengan ini, sebagian besar bank yang mengikuti tes itu tergolong cukup kuat menghadapi gejolak ekonomi.
Namun, ada kekecewaan tes itu tidaklah cukup ketat. Hanya tujuh bank yang tidak lulus dan ketujuh tersebut, lima dari Spanyol, dua lainnya dari Yunani dan Jerman, tidaklah mengejutkan. Selain itu, Hasil tes tersebut juga menunjukan ketujuh bank itu harus mengumpulkan dana total 3,5 miliar euro, jauh di bawah prediksi analis.
Para analis mulai mengevaluasi kembali apakah hasil tes ini cukup untuk menunjukan mana bank yang sehat. Tes tersebut dianggap tidak memberikan semua informasi yang dibutuhkan mengenai standar bank yang dianggap layak.
Dalam tes itu, sebagian besar bank, tidak semua, memberikan secara sukarela informasi mengenai jumlah obligasi pemerintah yang mereka miliki. Informasi ini seharusnya dapat memberi jawaban mengenai bank mana yang paling rentan terhadap risiko krisis fiskal. Kecemasan mengenai efek krisis fiskal terhadap perbankan merupakan inti dari gejolak di Eropa beberapa bulan yang lalu.
Masih ada informasi yang tidak tersedia. Separuh dari 14 bank Jerman yang mengikuti tes itu, termasuk Deutsche Bank dan Postbank, tidak memberikan jumlah obligasi pemerintah yang mereka pegang. Hal ini bisa menimbulkan pertanyaaan mengenai mengapa ada bank tidak mengungkapkan informasi tersebut.
Para analis mengkritik keengganan regulator untuk menguji kemampuan bank menghadapi gagal bayar (default) suatu negara seperti Yunani. Banyak analis menganggap gagal bayar atau restrukturisasi tidak dapat dihindari, sedangkan pejabat masih mengatakan hal itu mustahil. Otoritas melihat hal itu mustahil karena adanya pinjaman siaga sebesar 750 miliar euro yang disiapkan Uni Eropa dan IMF.
Tes itu akan dianggap sukses bila pinjaman antar bank (interbank) meningkat dan semakin sedikit bank yang bergantung dengan ECB untuk dana segar. Namun, diperlukan waktu untuk melihatnya dengan jelas.
Tahun lalu, pasar juga sempat skeptis dan mengkritik stress test yang dilakukan pemerintah AS terhadap banknya. Namun akhirnya tes itu mencapai tujuannya mengembalikan kepercayaan pasar.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Dorong ekonomi, Obama ajukan program infrastruktur
- IMF lihat pemulihan ekonomi global berlanjut
- Inflasi lebih rendah dari prediksi
- Kinerja ekonomi AS semakin lesu
- Sentimen bisnis Jerman meningkat
- China lirik mata uang Asia
- Kapan China mengungguli ekonomi AS?
- Ekonomi Jepang melambat tajam
- The Fed terapkan QE terbatas
- The Fed rapat di tengah ancaman deflasi
- Ekonomi AS lesu, butuh stimulus lagi
- BI jajaki redenominasi rupiah.
- Sektor perumahan AS bisa picu resesi kedua
- Ancaman deflasi meningkat di AS
- Stress test Eropa kurang meyakinkan?



