Stiglitz lihat risiko signifikan resesi Eropa
Jakarta, Strategydesk - Eropa akan kembali terjerumus ke resesi dan sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan aktivitas ekonomi, menurut ekonom peraih Nobel Joseph Stiglitz.
“Ada kemungkinan besar Eropa akan kembali menjalani resesi, karena sudah ada tanda-tanda kontraksi ekonomi,” katanya dalam wawancara dengan Bloomberg. Ia juga memandang pengetatan hanya akan memperburuk masalah.
“Faktor penghambatnya adalah program pengetatan yang diterapkan di Eropa dan AS. Pemerintah harus menjalankan perannya dalam pembelanjaan dan anggaran,” ujar Stiglitz yang juga mengatakan ECB, seperti the Fed, telah melakukan tugasnya. “Perlu diciptakan kerangka fiskal baru, berserta dana solidaritas untuk pertumbuhan dan stabilitas.”
Memang semakin banyak indikasi zona euro memasuki resesi. Hasil survei oleh Markit menunjukkan sektor manufaktur kawasan itu semakin terkontraksi. Indeks PMI blok itu berada di 46,4 selama Nopember, turun dari 47,1.
Negara lemah bukan saja yang menderita, negara kaya juga mulai melambat. “Sebagaimana ditakutkan di awal tahun, kelesuan mulai menyebar dari negara kecil ke negara besar,” kata Chris William son, chief economist Markit. “Bahkan Jerman mulai stganan dan Perancis kontraksi sekitar 0,5%.”
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Tsipras: Progam penghematan harus dikaji ulang
- Mengenal sosok Francois Hollande
- Roubini: Liburan usai, krisis utang kembali
- Spanyol menuju krisis finansial pada 2013
- Menkeu Jerman: Dana talangan cukup, tak perlu tambah lagi
- Survei tunjukkan optimisme atas dollar
- Default & exit Yunani: Baik untuk euro, buruk bagi korporat
- Apa sebenarnya LTRO ECB?
- Krugman: Yunani kehabisan alternatif
- Meski Diprotes, Parlemen Yunani Setujui Penghematan
- Hemat anggaran, Yunani PHK 15.000 PNS
- Ekonomi masih jadi fokus kampanye pilpres AS
- IMF : Asia punya ruang untuk stimulus
- Roubini: Yunani keluar dari euro setahun lagi
- Draghi optimis tahun ini lebih baik



