Stark keluar dari ECB di saat yang buruk
Jakarta, Strategydesk - Salah satu anggota dewan ECB, Juergen Stark mengundurkan diri, membuat pasar bergejolak. Hal ini karena pengunduran diri perwakilan Jerman itu datang di saat yang buruk, di mana para pembuat kebijakan berjuang mencari solusi untuk mengatasi krisis utang.
ECB adalah satu-satunya institusi yang menjaga zona euro stabil di tengah krisis utang dan mencegah guncangan di pasar obligasi. Uni Eropa tidak punya pemerintah federal atau otoritas fiskal.
Meski Stark menyatakan pengunduran dirinya karena alasan pribadi dan akan tetap menjabat sampai penggantinya ditunjuk, muncul berita kepergiannya itu karena perdebatan mengenai kebijakan pembelian obligasi pemerintah untuk mengatasi krisis utang. Pengunduran dirinya itu juga terjadi di saat bersiap menghadapi kemungkinan Yunani default.
“ECB-lah yang selama ini menjaga stabilitas, jadi apapun yang dapat melemahkannya, jadi berita buruk,” kata salah satu pejabat Uni Eropa. Kepergian Stark akan semakin mengurangi kredibilitas ECB dengan kubu konservatif Jerman, yang menganggap pembelian obligasi sebahai cara buruk membiayai utang pemerintah, dan di mata publik ekonomi terbesar Eropa itu.
Hal itu bisa membuat integrasi fiskal semakin sulit diwujudkan di saat Kanselir Angela Merekl menyadari hal kitulah yang dibutuhkan untuk menjaga kesatuan zona euro. Lebih buruk lagi, kepergian Stark bisa mempengaruhi kemampuan ECB untuk mengambil tindakan ketika krisis utang memasuki tahap yang lebih berbahaya.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Tsipras: Progam penghematan harus dikaji ulang
- Mengenal sosok Francois Hollande
- Roubini: Liburan usai, krisis utang kembali
- Spanyol menuju krisis finansial pada 2013
- Menkeu Jerman: Dana talangan cukup, tak perlu tambah lagi
- Survei tunjukkan optimisme atas dollar
- Default & exit Yunani: Baik untuk euro, buruk bagi korporat
- Apa sebenarnya LTRO ECB?
- Krugman: Yunani kehabisan alternatif
- Meski Diprotes, Parlemen Yunani Setujui Penghematan
- Hemat anggaran, Yunani PHK 15.000 PNS
- Ekonomi masih jadi fokus kampanye pilpres AS
- IMF : Asia punya ruang untuk stimulus
- Roubini: Yunani keluar dari euro setahun lagi
- Draghi optimis tahun ini lebih baik



