S&P ancam rating zona euro
Jakarta, Strategydesk - Standard & Poor’s kemungkinan mencopot dua ekonomi terbesar Eropa, Jerman dan Perancis, dari rating AAA-nya karena krisis ekonomi yang menerpa benua itu. Lembaga tersebut juga mengatakan 13 negara lainnya juga terancam.
Pengumuman oleh S&P ini, yang belum pernah mengancam rating Jerman dan Perancis, datang di awal minggu penting bagi Eropa, dengan para pemimpinnya mengadakan pertemuan di Brussels Kamis dan Jumat untuk membahas lebih lanjut resoles mengatasi krisis utang. Langkah itu tentunya bisa menambah geram para politisi Eropa yang berargumen penurunan rating Spanyol dan Italia sebelumnya memperburuk krisis.
S&P mengatakan langkah itu diambil karena pandangan gejolak sistemik di zona euro meningkat dalam beberapa minggu terakhir ke tahap yang membahayakan rating kawasan itu secara keseluruhan. Lembaga itu juga berharap dapat menyelesaikan evaluasinya segera setelah pertemuan di Brussel itu.”Bila respon para pemimpin mengecewakan, kami yakin kepercayaan pasar akan semakin merosot,” katanya.
Selain Jerman dan Perancis, S&P menyebut Belanda, Austria, Finlandia dan Luksembrug sebagai negara yang bisa kehilangan rating AAA. S&P memperingatkan rating bisa diturunkan satu level untuk Austria, Belgia, Finlandia, Jerman, Belanda dan Luksemburg, namun satu hingga dua tingkat untuk pemerintah lainnya, termasuk Perancis.
Hal ini menunjukkan seberapa jauh krisis menyebar, karena negara tersebut selama ini dianggap aman. Negara lain di zona euro tidak puany rating top, Siprus sudah dalam daftar pengawasan dan Yunani sudah mendapat status junk. Peringatan S&P ini menunjukkan bahwa waktu semakin menipis untuk Eropa agar segera mebuat gebrakan berarti yang tidak hanya mengatasi krisis tapi juga mencegahnya terulang.
S&P merupakan lembaga rating kedua setelah Moody’s Investor Service yang mengancam rating zona euro. Minggu lalu, Moody’s mengatakan eskalasi pesat krisis utang dan perbankan Eropa mengancam semua rating negara di kawasan itu.
Penurunan rating Jerman dan Perancis bisa menimbulkan keraguan atas dana talangan Eropa, atau EFSF, mengingat kedua pentolan zona euro itu merupakan kontributor terbesar dana talangan tersebut dan membantu mengangkat pamornya. Para analis khawatir penurunan rating Jerman dan Perancis bisa mendorong biaya pinjaman EFSF, mengurangi efektivitas dalam mengatasi krisis utang.
Presiden Perancis Nicolas Sarkozy dan Kanselir Jerman Angela Merkel bertemu di Paris kemarin sepakat untuk mengajukan perubahan traktat dalam rangka mewujudkan integrasi fiskal dan memberlakukan disiplin anggaran yang lebih ketat.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- G-8 belum mampu yakinkan pasar
- Jepang mulai optimis dengan prospek ekonomi
- Yunani harus gelar pemilu ulang
- Euro, cacat sejak lahir
- Pejabat Eropa bersiap kemungkinan keluarnya Yunani dari euro
- Krisis perbankan, dilema Spanyol
- Meski surplus bertambah, ekspor & impor China melambat
- Jerman ke Yunani: Langgar aturan, tak ada bantuan
- Perancis & Yunani picu era ketidakpastian baru
- Yunani berisiko keluar dari euro?
- Draghi tetap buka ruang tindakan bila diperlukan
- ECB coba bertahan di tengah tekanan
- Manufaktur China membaik, indikasi pemulihan
- RBA pangkas rate 50 bps
- Spanyol dalam jeratan resesi



