Soros: Krisis Eropa lebih buruk dari 2008
Jakarta, Strategydesk - Krisis utang Eropa berpotensi menyebar dan lebih buruk dari krisis 2008, serta perpecahan zona euro akan menjadi malapetaka bagi dunia.
Hal itu disampaikan oleh George Soros, investor veteran dalam kunjungan di India. Soros berbicara mengenai krisis Eropa dan dampaknya terhadap ekonomi dunia. Menyebut perpecahan euro bencana bagi Eropa maupun dunia, ia juga melihat pasar sudah mulai bersiap menghadapi kemungkinan itu.
Soros menjelaskan bahwa ada kekurangan ketika Uni Eropa membentuk kesatuan moneter tanpa kesatuan politik. “Ada cacat struktural dalam sistem finansial Uni Eropa dan ketimpangan dalam kinerja ekonominya,” katanya. Namun menurutnya, bahaya baru akan muncul ke depan karena cacat euro belum sepenuhnya terlihat.
Ia memperingatkan disintegrasi zona euro akan mempengaruhi Eropa dan seluruh sistem finansial global. Tapi ia mengakui belum melihat adanya tanda-tanda krisis utang dapat dikendalikan, sembari mengatakan banyak orang yang semakin pesimis.
Oleh karena itu, ia menyarankan investor agar berhati-hati dalam mengambil keputusan. “Pasar jauh dari keseimbangan dan amatlah sulit untuk memprediksikannya dengan menggunakan metode lama,” katanya sembari menambahkan investor harus bermain aman dan kecuali bisa mengantisipasi even secar tepat, lebih baik jangan lakukan apapun dari pada kehilangan uang.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Meski Diprotes, Parlemen Yunani Setujui Penghematan
- Hemat anggaran, Yunani PHK 15.000 PNS
- Ekonomi masih jadi fokus kampanye pilpres AS
- IMF : Asia punya ruang untuk stimulus
- Roubini: Yunani keluar dari euro setahun lagi
- Draghi optimis tahun ini lebih baik
- Fitch anggap default Yunani tak terelakkan
- Kecemasan orang Amerika, pekerjaaan, utang & politisi
- Gubernur SNB lengser akibat istri main valas
- Efek Eropa, IMF akan pangkas proyeksi PDB global
- Soros: Krisis Eropa lebih buruk dari 2008
- Yunani: Kita bisa keluar dari zona euro dalam 3 bulan
- Rating Obama akhirnya membaik
- Roubini: Tahun depan, situasi memburuk
- The Fed: Ekonomi tumbuh moderat, belum perlu stimulus baru



