Sektor manufaktur China terancam kontraksi lagi

Tanggal February 22, 2012 / 11:52 am. Oleh: Nizar Hilmy

Jakarta, Strategydesk - Sektor manufaktur China akan kontraksi lagi di Februari akibat krisis utang Eropa menggerus ekspor dan sektor properti lesu, menurut hasil survei terbaru.

Hasil survei HSBC dan Markit Economics menunjukkan indeks PMI manufaktur naik ke 49,7 di Februari dari 48,8 di Januari. Hasil perhitungan awal (preliminary) itu memang memperlihatkan kenaikan, tapi masih dalam area kontraksi, mengindikasikan sektor manufaktur China masih menghadapi tantangan.  Angka di bawah 50 menandakan kontraksi, di atas itu baru bisa disebut tumbuh. Data Januari dan Februari terdistorsi oleh liburan Imlek selama seminggu.

Meski ada perbaikan itu, chief economist HSBC  Qu Hongbin memperingatkan ekonomi China tetap menuju perlambatan, dan masih membutuhkan stimulus lagi. “Bank Sentral China, setelah memangkas Giro Wajib  Minimum (GWM) pada Nopember dan Februari, perlu menambah pelonggarannya seiring berkurangnya tekanan inflasi,” katanya.

PBOC Sabtu lalu mengatakan akan memangkas Giro Wajib Minimum (GWM) sebesar 0,5%, efektif pada 24 Februari. GWM adalah jumlah dana yang harus disimpan sebagai cadangan. Rasio  kecukupan modal bank besar akan turun ke 20,5% setelah pemangkasan itu. Para analis mengatakan langkah itu merupakan sinyal otoritas memperhatikan prospek pertumbuhan. Mereka memperkirakan keputusan ini bisa menambah sekitar 400 miliar yuan ke sistem keuangan.

Dalam catatannya, Hongbin mengatakan kenaikan indeks PMI itu lebih karena kenaikan produksi menjelang liburan Imlek.  Sub-indeks memperlihatkan tanda-tanda mengkhawatirkan. Orders ekspor baru turun ke level terendah dalam delapan bulan terakhir di 47,4. Permintaan domestik juga mengecewakan, dengan order baru flat di 49,1. 

Pencarian Data

Masukkan kata kunci yang ingin Anda cari

Statistic

eXTReMe Tracker

Advertisement

  • Ezydeal

    Ayo trading menggunakan ezydeal. Buka free account