Saham Asia coba bangkit awal pekan ini

Jakarta, Strategydesk - Setelah mengalami kejatuhan pada perdagangan Jumat lalu, kini saham Asia berpeluang mengalami penguatan menyusul penguatan bursa Wall Street. Penguatan bursa Wall Street ditopang hasil laporan keuangan General Electric dan Google Inc yang diatas prediksi.
Namun, penguatan saham Asia kemungkinan masih terbatasi karena kecemasan pelaku pasar terhadap meningkatnya kekhawatiran akan pemberitaan dari China Securities Journal. Surat kabar itu mengatakan China kemungkinan akan menaikkan suku bunga secepatnya pada liburan Tahun Baru Imlek. Selain itu, harian tersebut juga memprediksikan Beijing akan terus menaikkan Giro Wajib Minimum dalam rangka meredam inflasi yang bisa mencapai 6% di semester pertama tahun ini.
Dengan meningkatnya kekhawatiran akan pengetatan moneter di China, kemungkinan akan memberatkan kinerja saham bank. Ditambah saham komoditas juga menjadi sasaran aksi jual, menyusul penurunan harga minyak dan logam.
Minimnya katalis seperti data ekonomi, diperkirakan pergerakan saham Asia sebagian besar dipengaruhi sentimen positif dari laporan keuangan seperti Jepang dan Korsel, yang dijadwalkan dirilis minggu ini.
Nikkei Futures Kontrak Maret (SSIH1)
Indeks Nikkei mencatat kejatuhan mingguan terbesarnya dalam tiga bulan terakhir Jumat lalu karena aksi jual yang dilandasi kecemasan mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan di China. Kekhawatiran itu juga ikut menjatuhkan harga komoditas, yang menekan saham terkait. Isu pengetatan China dan kejatuhan komoditas dijadikan alasan untuk melakukan aksi ambil untung. Indeks Nikkei ditutup melemah 162,79 poin, atau 1,56%, di 10.274,52.
Indeks Nikkei diperkirakan akan mengalami penguatan diawal perdagangan kali ini, menyusul aksi buy back yang dilakukan investor terhadap saham-saham eksportir dengan mempertimbangkan kejatuhan saham itu pada Jumat lalu. Tapi sebagian pelaku pasar lebih memilih wait and see jelang diumumkannya laporan keuangan perusahaan Jepang minggu ini.
Kospi Futures Kontrak Maret (KSH1)
Indeks Kospi penutupan Jumat lalu juga bernasib sama, dihantam serangan profit taking yang dipicu oleh kecemasan mengenai pengetatan moneter di China. Kejatuhan dipimpin oleh sektor teknologi dan otomotif. Indeks Kospi ditutup melemah 36,74 poin, atau 1,74%, di 2.069,92. Saham yang sensitif dengan China, seperti baja dan alat berat, juga menjadi bulan-bulanan aksi jual.
Indeks Kospi akan mengalami penguatan diawal perdagangannya minggu ini setelah indeks Dow Jones mencatat penguatan berkat laporan keuangan perusahaan yang diatas prediksi. Tapi kinerja saham teknologi sepetri LG Display akan mengalami tekanan setelah produsen panel flat itu mencatat kerugian pada pada laporan keuangannya Jumat lalu.
Hang Seng Futures Kontrak Desember (HSIF1)
Indeks Hang Seng melanjutkan kejatuhannya Jumat lalu karena meningkatnya kekhawatiran akan pengetatan moneter di China, yang menghantam saham bank. Sebenarnya, kekhawatiran ini sudah timbul ketika data pertumbuhan dan inflasi diumumkan sebelumnya. Indeks Hang Seng ditutup melemah 126,84 poin, atau 0,53%, di 23.876,86.
Indeks Hang Seng diperkirakan akan mengalami penguatan hari ini, setelah dua sesi terakhir mengalami kejatuhan. Menguatnya bursa regional berkat penguatan Wall Street diharapkan dapat menopang laju indeks Hang Seng. Meski indeks masih dibayangi kekhawatiran akan pemberitaan dari China Securities Journal. Surat kabar itu mengatakan China kemungkinan akan menaikkan suku bunga secepatnya pada liburan Tahun Baru Imlek.
Rekomendasi
NIKKEI
KOSPI
HANG SENG
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Dollar masih kuat, emas kian terpuruk
- Bernanke ancam laju IHSG
- Koreksi DJI, IHSG Sulit Tembus 4.025
- Inflasi serta krisis utang Eropa masih menopang emas
- Mampukah IHSG jauhi support 3.770
- Energi topang Hang Seng
- Saham Asia coba bangkit awal pekan ini
- Laju saham Asia menguat terbatas
- Inflasi China hambat laju saham Asia
- Wall Street gairahkan saham Asia
- Saham Asia masih rentan
- Kejatuhan bursa Asia terbatas
- Kejatuhan bursa Asia masih terbatas
- Laju bursa Asia tertahan
- Kejatuhan bursa utama Asia terbatas



