Rupiah pun terkena imbas Eropa

Tanggal September 14, 2011 / 5:38 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Jakarta, Strategydesk - Rupiah terjungkal ke level terendah dalam 19 bulan terakhir karena meningkatnya keresahan pasar soal krisis utang Eropa akan memburuk, mengurangi permintaan mata uang emerging markets.

Defisit anggaran Yunani membengkak jadi 22% selama delapan bulan pertama tahun ini, meningkatkan spekyasi negara itu akan gagal memenuhi persyaratan yang dituntut untuk mendapat bailout.  Berita ini menambah kekhawatiran pasar yang sudah cemas dengan ancaman default di negara itu.

Rupiah juga tertekan setelah Bank Pembangunan Asia (ADB) menurunkan proyeksi pertumbuhan Asia. Menurut lembaga itu, PDB Asia di luar Jepang tumbuh masing 7,5%  di 2011 dan 2012 , lebih rendah dari proyeksi sebelumnya di April yaitu 7,8% dan 7,7%. Penurunan proyeksi ini mencerminkan dampak kelesuan ekonomi AS dan Eropa terhadap kawasan Asia.

Menambah tekanan ke rupiah, Bank Indonesia (BI) hari ini memberikan sinyal kemungkinan menurunkan suku bunganya karena ancaman perlambatan ekonomi dunia. Direktur Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Perry Warijiwo mengatakan pihaknya siap menyesuaikan suku bunga dan kebijakan moneter ke arah pelonggaran bila inflasi melambat dan ekonomi tumbuh lebih rendah dari proyeksi karena perlambatan global.

BI melakukan intervensi di pasar uang dan obligasi hari ini untuk meredam kejatuhan rupiah yang mencapai 2,6%. Deputi Gubernur BI Hartadi Sarwono mengakui intervensi itu agar rupiah tidak jatuh lebih dalam lagi. 
Dalam perdagangan hari ini, rupiah ditutup di Rp. 8.725 per dollar AS, melemah dari level penutupan kemarin Rp. 8.638.

Pencarian Data

Masukkan kata kunci yang ingin Anda cari

Statistic

eXTReMe Tracker

Advertisement

  • Ezydeal

    Ayo trading menggunakan ezydeal. Buka free account