Roubini: Ekonomi AS masih butuh stimulus
Jakarta, Strategydesk - Ekonomi AS membutuhkan stimulus fiskal tambahan dalam jangka pendek karena ekonomi masih lesu, menurut ekonom senior Nouriel Roubini.
“Solusi yang dibutuhkan adalah melaksanakan program untuk mengendalikan pembelanjaan dan menaikkan pajak secara bertahan selama lima tahun ke depan,” kata Roubini di sela-sala Aspen Ideas Festival di Aspen, Colorado. Menurutnya, pemerintah AS hanya berkutat pada solusi jangak pendek, bukannya stimulus dan sesuatu berjangka menengah, jadinya kebijakannya tidak optimal.
Ia memperkirakan the Fed kemungkinan juga akan dipaksa oleh kelesuan ekonomi untuk melakukan sesuatu. “Ini QE3 setelah QE2, tidak akan akan ada bedanya tapi kita butuh stimulus moneter,” katanya. “Ekonomi kemungkinan akan tetap lesu dan masalah fiskal akan terus menjadi penghambatnya. Artinya, suku bunga akan tetap rendah untuk waktu yang amat lama,” ujarnya.
Mengenai Eropa, Roubini mengatakan Spanyol dan Italia bisa kehilangan akses pasar bila tidak mengimplementasikan program pengetatan. “Apapun yang terjadi pada Yunani, kedua negara itu tetap harus melakukannya atau kehilangan akses pasar,” tukasnya.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Tsipras: Progam penghematan harus dikaji ulang
- Mengenal sosok Francois Hollande
- Roubini: Liburan usai, krisis utang kembali
- Spanyol menuju krisis finansial pada 2013
- Menkeu Jerman: Dana talangan cukup, tak perlu tambah lagi
- Survei tunjukkan optimisme atas dollar
- Default & exit Yunani: Baik untuk euro, buruk bagi korporat
- Apa sebenarnya LTRO ECB?
- Krugman: Yunani kehabisan alternatif
- Meski Diprotes, Parlemen Yunani Setujui Penghematan
- Hemat anggaran, Yunani PHK 15.000 PNS
- Ekonomi masih jadi fokus kampanye pilpres AS
- IMF : Asia punya ruang untuk stimulus
- Roubini: Yunani keluar dari euro setahun lagi
- Draghi optimis tahun ini lebih baik



