RBA, BOJ pertahankan kebijakan
Jakarta, Strategydesk - Bank Sentral Australia (RBA) dan Bank Sentral Jepang (BOJ) hari ini mempertahankan kebijakannya di tengah indikasi perlambatan ekonomi global.
RBA masih mempertahankan suku bunganya untuk sementara waktu karena kecemasan mengenai pemulihan ekonomi dunia, meski serangkaian data ekonomi domestic cukup baik. RBA mempertahankan rate-nya di 4,5% untuk keempat bulan berturut-turut, sesuai prediksi.
Dalam pernyataannya, Gubernur RBA Glenn Stevens mengatakan dengan pertumbuhan mendekati tren, dan inflasi dekat dengan target, namun prospek ekonomi global dipenuhi ketidakpastian, dewan melihat kebijakan ekonomi masih tepat untuk saat ini.
Lesunya ekonomi AS, gejolak di pasar keuangan dan data yang beragam menjadi pertimbangan dewan untuk mempertahankan kebijakan.
Para ekonom mengatakan inflasi masih terkendali dengan tingkat upah masih stabil meski ekonomi tumbuh relatif pesat di kuartal kedua. Di sisi lain, sektor properti melemah karena hilangnya stimulus dan dampak kenaikan suku bunga sebelumnya.
Di bulan-bulan berikutnya, RBA sepertinya masih harus mengimbangi perkembangan ekonomi dan inflasi domestik, dengan kondisi global yang tidak pasti.
Sementara itu, BOJ masih menahan diri untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut dan tetap mempertahankan suku bunga di level 0,1% pada hari Selasa. Meski demikian,BOJ siap mengambil tindakan yang tepat bila diperlukan, membuka kemungkinan pelonggaran kebijakkan bulan depan bila ada bukti yang lebih jelas tentang dampak yen penguatan terhadap ekonomi.
Dalam pernyataan pada keputusan, para BOJ mengulangi bahwa perlu berhati-hati untuk risiko penurunan ekonomi Jepang sebagaimana ketidakpastian atas prospek AS yang semakin tinggi, yang telah menyebabkan mata uang dan pergerakkan saham yang tidak stabil. Dengan adanya hal ini, BOJ akan mengambil tindakan tepat bila diperlukan.
Pemerintah mendesak BOJ untuk mengambil langkah-langkah agresif yang memungkinkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang mengalami perlambatan.
Prospek politik di Jepang juga menghadapi ketidakpastian dengan kemungkinan perubahan dalam kepemimpinan partai yang berkuasa, yang kemungkinan diikuti perubahan perdana menteri. Pasar keuangan melihat kemungkinan perubahan kekuasaan dari perdana menteri Naoto Kan ke Ichiro Ozawa. bila ini terjadi, upaya pengurangan defisit akan terancam. namun, Ozawa berjanji bila terpilih ia tidak segan-segan untuk melakukan intervensi.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- RBA pertahankan rate di 4,25%
- Tumbuh 6,5%, ekonomi Indonesia stabil
- Publik Jerman ingin Yunani keluar dari euro
- Bernanke : Ekonomi masih penuh tantangan
- Manufaktur China masih membaik
- 25 negara Eropa sepakat traktat baru
- Dunia desak Eropa tuntaskan krisis
- The Fed pertimbangkan stimulus lanjutan
- Krisis Eropa, IMF turunkan proyeksi PDB dunia
- Eropa tolak tawaran kreditor Yunani
- Naik rating, dana asing makin deras
- Ekonomi melambat, China coba genjot kredit
- Giliran Moody naikkan Indonesia ke investment grade
- Bank Dunia pangkas proyeksi PDB global 2012
- PDB China Tumbuh 8,9%



