PBB lihat prospek ekonomi dunia suram
Jakarta, Strategydesk - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memangkas tajam proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dan memperingatkan 2012 akan menjadi penentu apakah ekonomi masih tumbuh lambat atau kembali terjerumus ke resesi.
Dalam laporannya, Prospek dan Situasi Ekonomi Dunia 2012, para ekonom PBB memperkirakan pertumbuhan amat rendah, memperingatkan negara maju diambang spiral ekonomi lesu karena empat faktor, yaitu masalah utang pemerintah, sektor perbankan yang rapuh, permintaan agregat lemah dan kelumpuhan kebijakan.
Dalam Laporan yang dibuat oleh Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial, PBB kini memperkirakan, maksimal, ekonomi global akan tumbuh 2,6% di 2012 dan 3,2% pada 2013, melambat dari 4,0% di 2010. Dalam proyeksi sebelumnya, ekonomi diperkirakan tumbuh 3,6% tahun ini.
Tapi, angka itu bisa dibilang masih skenario terbaik, karena PBB memperingatkan proyeksi ini dibuat dengan asumsi krisis utang Eropa terkendali, masalah ekonomi AS tidak memburuk dan negara maju tidak melakukan pengetatan lebih lanjut. “Kegagalan pemerintah, terutama di Eropa dan AS, dalam mengatasi krisis lapangan kerja dan mencegah krisis utang dan gejolak sektor keuangan memburuk, merupakan ancaman besar bagi ekonomi global pada 2012-2013,” sebut laporan itu.
PBB juga menyebutkan perlambatan ekonomi negara maju akan berimbas ke negara berkembang. Meski mengakui ekonomi negara berkembang semakin kuat, mereka masih rentan dengan gejolak yang terjadi di negara maju.
Laporan itu juga menyebutkan pertumbuhan zona euro terus melambat sejak awal 2011 dan merosotnya kepercayaan, seperti yang ditunjukan oleh beragam indikator sentimen ekonomi, mengindikasikan berlanjutnya perlambatan ke depan, bahkan hingga stagnasi pada akhir 2011 dan awal 2012.
Oleh karena itu, PBB mengimbau negara maju agar tidak memberlakukan pengetatan fiskal prematur mengingat masih rentannya pemulihan ekonomi dan tingginya tingkat pengangguran. Imbauan ini tentunya bertolak belakang dengan IMF yang merekomendasikan pengetatan fiskal dalam rangka mengurangi utang dan memulihkan ekonomi.
PBB menyarankan agar memperkuat dana talangan Eropa (EFSF), yang dapat membantu ekonomi bermasalah. Disebutkan dalam laporan itu bila dana tersebut bisa mengurangi biaya pinjaman atau yield, hal itu bisa meringankan beban pemerintah yang sedang dalam masalah kauangan.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- G-8 belum mampu yakinkan pasar
- Jepang mulai optimis dengan prospek ekonomi
- Yunani harus gelar pemilu ulang
- Euro, cacat sejak lahir
- Pejabat Eropa bersiap kemungkinan keluarnya Yunani dari euro
- Krisis perbankan, dilema Spanyol
- Meski surplus bertambah, ekspor & impor China melambat
- Jerman ke Yunani: Langgar aturan, tak ada bantuan
- Perancis & Yunani picu era ketidakpastian baru
- Yunani berisiko keluar dari euro?
- Draghi tetap buka ruang tindakan bila diperlukan
- ECB coba bertahan di tengah tekanan
- Manufaktur China membaik, indikasi pemulihan
- RBA pangkas rate 50 bps
- Spanyol dalam jeratan resesi



