Pasca FOMC, bursa Asia rontok
Jakarta, Strategydesk - Bursa Asia diperkirakan akan mengalami kejatuhan, menyusul rencana The Fed membeli sekuritas mortgage dan obligasi pemerintah dengan uang cetakan baru atau lebih di kenal dengan quantitative easing. Karena suku bunga sudah mencapai amat rendah, atau sudah mentok, the Fed perlu metode lainnya untuk mendorong ekonomi.
Selain itu, kurang baiknya data AS dan China membuat kecemasan pasar lebih besar akan pemulihan ekonomi global. Selain itu, fokus pasar kini tertuju pada data China hari ini, seperti inflasi, industrial production dan retail sales.
Nikkei Futures Kontrak September (SSIU0)
Indeks Nikkei mencatat hasil negatif kemarin, tertekan karena data China yang menunjukan penurunan impor yang lebih besar dari prediksi. Aktivitas perdagangan berkurang karena sikap antisipatif menjelang keputusan the Fed. BOJ hari ini mempertahankan suku bunganya dan tidak mengeluarkan kebijakan baru apapun, menyimpan ruang geraknya yang sudah terbatas untuk mengantisipasi apresiasi yen ke level yang bisa merusak pemulihan ekonomi. Indeks Nikkei .N225 ditutup melemah 21,44 poin, atau 0,22%, di 9.551,05.
Indeks Nikkei kembali merana hari ini, menyusul kejatuhan Wall Street dan penguatan yen, yang diperkirakan membebani saham ekspor. Dalam keputusan The Fed semalam, disinyalir bahwa bank sentral AS tersebut berencana akan mendorong perekonomian AS melalui Quantitative Easing.
Kospi Futures Kontrak September (KSU0)
Sementara itu di Korsel, kemarin indeks Kospi juga berakhir negatif karena Data China dan aksi ambil untung menjelang keputusan the Fed. Selain itu, meningkatnya ketegangan dengan Korut juga menjadi penyebab, setelah negara Komunis itu menembakan artilerinya. Indeks Kospi .KS11 ditutup melemah 9,04 poin, atau 0,5%, di 1.781,13.
Indeks Kospi diperkirakan masih akan mengalami penurunan hari ini, menyusul kejatuhan Wall Street. Saham ekspor seperti produsen baja, Posco diperkirakan pimpin kejatuhan indeks, setelah kecemasan mengenai perlambatan perekonomian AS dan China. Kekhawatiran ini dikarenakan serangkaian data kedua Negara tersebut yang tidak sesuai harapan.
Hang Seng Futures Kontrak Agustus (HSIQ0)
Indeks Hang Seng mencatat kejatuhan cukup tajam kemarin, tertekan oleh data dari China yang meningkatkan kecemasan mengenai permintaan di negara itu. Selain itu, ekspektasi kenaikan inflasi hina menambah tekanan ke pasar. Data kemarin menunjukan impor China tumbuh 22,7% di Juli, lebih rendah prediksi dari 30,2% dan bulan sebelumnya yang 34,1%. Hal ini menimbulkan kecemasan akan berkurangnya permintaan dari China. Indeks Hang Seng .HSI ditutup melemah 327,99 poin, atau 1,5%, di 21.473,60.
Wall Street yang penutupan semalam negatif, diperkirakan dapat menekan sentimen pasar di Hong Kong. Selain itu, pelaku pasar juga menantikan data ekonomi China yang akan diumumkan hari ini, seperti inflasi, industrial production, retail sales.
Rekomendasi
NIKKEI
KOSPI
HANG SENG
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Krisis Eropa kembali menggelayuti regional
- Regional rally berkat data AS
- Wall Street flat, regional menanti payroll
- Data manufaktur angkat regional
- Data AS mengecewakan, regional tertekan
- Wall Street koreksi tipis, regional range terbatas
- Dow koreksi, regional fokus pertemuan Uni Eropa
- Data AS giring koreksi bursa Asia
- Pasca FOMC, bursa Asia masih positif
- Apple Hijaukan Regional
- Fokus Menkeu Eropa, Nikkei menguat
- Laju Nikkei tertahan
- Sentimen Positf Eropa & AS, bursa Asia melaju
- IMF, Goldman Sach Hijaukan Asia
- Penguatan Asia Mulai Terbatasi



