Pasca bin Laden, Obama kembali ke ekonomi
Jakarta, Strategydesk - Kemenangan spektakuler yang diraih Presiden Obama, yaitu menemukan dan membunuh buruan terbesarnya Osama Bin Laden, memang mendongkrak popularitasnya. Namun, data ketenagakerjaan mengingatkan kembali hal yang paling krusial bagi rakyat Amerika antara saat ini dan pemilu berikutnya, yaitu ekonomi.
Obama mendapat pujian atas operasi penggerebekan bin Laden di Pakistan. Ketika pemimpin Al-Qaeda itu ditemukan,Obama harus segera bertindak. Bila ia membiarkan buruannya itu lepas, kepemimpinannya dalam bahaya. Obama harus memilih antara mengebomnya atau mengirim pasukan. Pilihan kedua jauh lebih berisiko, tapi memastikan bin Laden tewas.
Bila operasi itu gagal, habis sudah Obama. Tapi keberhasilan operasi itu tidak menjamin ia bakal terpilih kembali. Antara sekarang dan pemilu berikutnya, Obama menghadapi serangkaian tes dan operasi bin Laden tidak mempermudahnya.
Salah satunya adalah isu Afghanistan. Dengan tewasnya bin Laden, maka tentu banyak yang beranggapan kini Obama punya alasan untuk keluar dari negara itu, nyatakan kemenangan dan mundur.
Tidak juga. Obama tidak perlu alasan untuk keluar dari Afghanistan karena itulah yang diinginkan rakyatnya. Faktor yang membuat AS ragu mundur adalah konsekuensinya sangatlah tidak pasti. Kematian bin Laden belumlah mengurangi ketidakpastian itu.
Bagaimana dengan pemulihan ekonomi, isu yang juga diliputi ketidakpastian dan penuh konsekuensi? Dalam pidatonya pasca operasi bin Laden, Obama kembali menyerukan kerjasama di Washington. Perdebatan mengenai fiskal, antara Republik dan Demokrat, terus menunda rancangan untuk menaikkan batas utang, memicu ancaman gagal bayar (default). Menurut Departemen Keuangan AS, utang akan mencapai batasnya pada 2 Agustus nanti.
Kekisruhan soal rancangan anggaran tentunya mengganggu proses pemulihan. Kenaikan pajak besar atau pemotongan anggaran publik, menjadi opsi yang harus dipilih. Ketidakpastian mengenai hal itu, menjadi momok bagi investasi dan kepercayaan pasar.
Pemulihan ekonomi masih rentan. Data Jumat lalu memperlihatkan jumlah orang yang bekerja meningkat sebanyak 244.000 pada April. Sayangnya, tingkat pengangguran justru naik ke 9% dari 8,8%. Beberapa minggu lalu data lain menunjukkan pertumbuhan ekonomi melambat ke 1,8% di kuartal pertama dari 3,1% di kuartal sebelumnya.
Dalam kondisi seperti ini, alat pemerintah untuk menjaga pemulihan ekonomi terbatas. Tapi bila Demokrat dan Republik segera bergerak untuk menaikkan batas utang dan mencapai gambaran fiskal yang jelas, hal itu dapat meningkatkan kepercayaan dan mengurangi ancaman resesi kedua. Sebaliknya, dampak dari kegagalan negosiasi dan menghasilkan rencana jangka panjang untuk mengendalikan defisit, akan berimbas ke Obama.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Tsipras: Progam penghematan harus dikaji ulang
- Mengenal sosok Francois Hollande
- Roubini: Liburan usai, krisis utang kembali
- Spanyol menuju krisis finansial pada 2013
- Menkeu Jerman: Dana talangan cukup, tak perlu tambah lagi
- Survei tunjukkan optimisme atas dollar
- Default & exit Yunani: Baik untuk euro, buruk bagi korporat
- Apa sebenarnya LTRO ECB?
- Krugman: Yunani kehabisan alternatif
- Meski Diprotes, Parlemen Yunani Setujui Penghematan
- Hemat anggaran, Yunani PHK 15.000 PNS
- Ekonomi masih jadi fokus kampanye pilpres AS
- IMF : Asia punya ruang untuk stimulus
- Roubini: Yunani keluar dari euro setahun lagi
- Draghi optimis tahun ini lebih baik



