Naik rating, dana asing makin deras
Jakarta, Strategydesk - Setelah dua lembaga rating menaikkan peringkat Indonesia ke investment grade, diperkirakan semakin banyak dana asing yang mengalir.
Menteri Perdagangan sekaligus Ketua BKPM Gita Wiryawan mengatakan realisasi investasi total, uang yang benar-benar diinvestasikan oleh investor asing maupun domestik, diperkirakan meningkat 13% menjadi Rp. 285,5 triliun tahun ini.
Dalam pengumumannya kemarin, BKPM mengatakan investasi bisa meningkat selama beberapa tahun ke depan, dengan investasi asing dan domestik diperkirakan mencapai Rp. 400-500 triliun pada 2014. Selama 2011 saja, investasi asing langsung (FDI) melonjak 18,4% menjadi $19,28 miliar, sedangkan realisasi investasi naik 20,5% menjadi Rp. 251,3 triliun. Penanaman modal dari investor lokal meningkat 25,6% menjadi Rp. 76 triliun selama 2011, atau 30% dari totoal investasi selama tahun ini.
Pengumuman itu datang sehari setelah Moody’s Investor Service menaikkan rating Indonesia ke investment grade, sebulan setelah mendapat status itu dari Fitch Ratings. Lembaga rating lainnya, Standard & Poor’s (S&P), diperkirakan akan segera menyusul.
Gita mengatakan kinerja ini terwujud berkat perbaikan iklim investasi baik di pemerintah baik di pusat maupun daerah, ditambah dengan upaya promosi yang gencar. Menurutnya, angka realisasi investasi selama 2011 berhasil melebihi target Rp. 240 triliun.
Singapura menempati tempat pertama, dengan menanamkan $5,1 miliar, atau 26,3% dari total investasi. Diikuti oleh Jepang dan AS, yang masing-masing mengucurkan $1,5 miliar. Untuk pertama kalinya Korsel masuk di lima besar, dengan menginvestasikan $1,2 miliar. Gita memperkirakan invetasi dari Korsel bisa meningkat lagi.
Meski naik rating dan berbagai prestasi, pemerintah tidak mengubah target investasi tahun ini dari Rp.290 triliun, atau kenaikan 15,4% dari tahun lalu, sebagai antisipasi memburuknya prospek ekonomi global.
DI Indonesia, investasi mengkontribusi sekitar 20% Produk Domestik Bruto, sedangkan konsumsi mencapai 60%. Para ekonom memang mengakui pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir ditopang oleh konsumsi domestik. Dalam rangka menarik investor asing, mereka menyebut Indonesia perlu menghapus beberapa hambatan, di antara kondisi infrastruktur yang buruk dan birokrasi yang rumit.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Sektor manufaktur China terancam kontraksi lagi
- Bailout untuk Yunani disetujui
- Genjot kredit, China turunkan GWM
- UE harapkan peran ECB di bailout Yunani
- PDB kontraksi, Eropa terancam resesi
- China tetap investasi di Eropa
- Luksemburg: Yunani bisa keluar dari euro
- PDB Jepang Kontraksi 2,3%
- Deal Yunani belum yakinkan UE
- Inflasi China naik 4,5%
- RBA pertahankan rate di 4,25%
- Tumbuh 6,5%, ekonomi Indonesia stabil
- Publik Jerman ingin Yunani keluar dari euro
- Bernanke : Ekonomi masih penuh tantangan
- Manufaktur China masih membaik



