Minyak rebound ke $73
Jakarta, Strategydesk - Minyak berhasil rebound ke $73 per barel hari ini di tengah membaiknya saham dan kejatuhan dollar. Selain itu, kejatuhan selama 4 sesi berturut-turut hingga ke $70 mengundang aksi bargain hunting.
Dollar jatuh terhadap rivalnya menyusul data ekonomi AS yang buruk. Pemerintah AS semalam melaporkan durable goods orders hanya naik 0,3% di Juli, lebih rendah dari prediksi 3,0%. Selain itu, new home sales ternyata anjlok 12,4% di bulan yang sama.
Selain itu, kejatuhan harga hingga ke $70 mendorong minat beli. Itu merupakan level terendah minyak dana 7 minggu terakhir. Pada jam 15:12 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman September naik 75 sen menjadi $73,27 per barel dalam perdagangan elektronik di NYMEX.
Minyak tumbang ke $70 karena data dari Energy Information Admisnistration (EIA) yang menunjukan cadangan minyak bertambah sebanyak 4,11 juta barel minggu lalu, jauh lebih besar dari prediksi yang hanya 200.000 barel. Sedangkan cadangan bensin meningkat 2,3 juta barel dan distillate, yang termasuk heating oil dan solar, naik 1,8 juta barel.
Minyak telah turun 11,5% dari $82 per barel awal bulan ini karena apresiasi dollar dan kecemasan akan perlambatan ekonomi global.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Minyak turun jelang data API
- Minyak turun tajam, Yunani jadi fokus
- Minyak naik, payroll dinantikan
- Data EIA tekan minyak
- Minyak diangkat Iran, data China
- Data Jepang angkat minyak
- Minyak turun jelang pertemuan Eropa
- Keputusan the Fed dorong minyak
- Minyak sideway, di bawah $100
- Faktor Timteng Angkat Minyak
- Minyak turun jelang pertemuan Eropa
- Minyak turun ke bawah $100
- Rencana IMF, data AS dorong minyak
- Pernyataan Iran, Saudi dongkrak minyak
- Masalah downgrade Eropa tekan laju minyak



