Minyak rebound jelang data EIA
Jakarta, strategydesk - Minyak rebound dari level terendahnya dalam seminggu terakhir berkat koreksi dollar, yang terjadi menyusul data manufaktur China dan PDB Australia. Namun, lajunya terhambat oleh ekspektasi kenaikan cadangan energi AS di tengah lesunya ekonomi.
Indeks PMI manufaktur China naik ke 51,7 di Agustus dari 51,2 bulan sebelumnya. Data lainnya menunjukan PDB Australia di kuartal kedua tumbuh 1,2% dari kuartal sebelumnya, lebih baik dari prediksi 0,9%. Secara tahunan, PDB tumbuh 3,3%, lebih tinggi dari prediksi 2,8%. Kedua data itu mengurangi kecemasan mengenai perlambatan ekonomi global.
Karena kedua data itu, sentimen pasar membaik, yang akhirnya terjadi peralihan dana ke aset berisiko dari safe haven. Peralihan ini membuat dollar melemah, yang akhirnya juga mendorong harga minyak.
Pada jam 15:30 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Oktober naik 10 sen menjadi $72,02 per barel dalam perdagangan elektronik di NYMEX.
Pergerakan harga selanjutnya akan tergantung dengan data dari Energy Information Administration (EIA). Data itu diperkirakan akan menunjukan cadangan minyak bertambah sebanyak 1,2 juta barel minggu lalu. Kenaikan yang lebih besar dari prediksi akan menekan harga minyak.
Pergerakan dollar juga masih mempengaruhi minyak. Bila data seperti ISM manufaktur dan ADP nanti malam mengurangi kecemasan mengenai ekonomi, dollar bisa melemah, yang akhirnya bisa mengangkat minyak.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Minyak turun jelang data API
- Minyak turun tajam, Yunani jadi fokus
- Minyak naik, payroll dinantikan
- Data EIA tekan minyak
- Minyak diangkat Iran, data China
- Data Jepang angkat minyak
- Minyak turun jelang pertemuan Eropa
- Keputusan the Fed dorong minyak
- Minyak sideway, di bawah $100
- Faktor Timteng Angkat Minyak
- Minyak turun jelang pertemuan Eropa
- Minyak turun ke bawah $100
- Rencana IMF, data AS dorong minyak
- Pernyataan Iran, Saudi dongkrak minyak
- Masalah downgrade Eropa tekan laju minyak



