Minyak rebound, data ritel AS dinanti
Jakarta, Strategydesk - Minyak rebound dari level terendahnya dalam sebulan terakhir berkat koreksi dollar dan penguatan saham, yang mendorong kembali minat terhadap aset berisiko.
Minyak naik untuk pertama kalinya dalam 4 sesi terakhir setelah euro menguat terhadap dollar berkat data PDB Jerman. Data itu menunjukan ekonomi Jerman tumbuh 2,2% di kuartal kedua dari kuartal sebelumnya. Secara tahunan, PDB tumbuh 4,1%.
Minyak juga naik berkat penguatan saham Asia. Sebagian besar saham Asia rebound hari ini, namun minimnya katalis membuat penguatannya terbatas. Pada jam 16:20 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman September naik 71 sen menjadi $76,45 per barel dalam perdagangan elektronik di NYMEX.
Pasar kini menantikan data penjualan ritel AS, yang diharapkan dapat memberi gambaran mengenai pembelanjaan konsumen, yang merupakan hampir 70% aktivitas ekonomi AS. Data yang lebih rendah dari prediksi, bahkan negatif, bisa meningkatkan kembali kecemasan mengenai ekonomi AS.
Penjualan ritel diperkirakan naik 0,5% di Juli, sedangken penjualan di sektor otomotif diperkirakan hanya naik 0,3%. Data lainnya yang juga bsia mempengaruhi pasar adalah sentimen konsumen AS, yang diperkirakan naik ke 69,4 bulan ini dari 67,8 bulan lalu.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Laporan API lambungkan minyak
- Minyak turun jelang data API
- Minyak turun tajam, Yunani jadi fokus
- Minyak naik, payroll dinantikan
- Data EIA tekan minyak
- Minyak diangkat Iran, data China
- Data Jepang angkat minyak
- Minyak turun jelang pertemuan Eropa
- Keputusan the Fed dorong minyak
- Minyak sideway, di bawah $100
- Faktor Timteng Angkat Minyak
- Minyak turun jelang pertemuan Eropa
- Minyak turun ke bawah $100
- Rencana IMF, data AS dorong minyak
- Pernyataan Iran, Saudi dongkrak minyak



