Minyak fluktuatif, Iran masih support
Jakarta, Strategydesk - Minyak bergerak fluktuatif hari ini, namun masih dekat level tertinggi dalam delapan bulan terakhir, karena spekulasi ketegangan antara Iran dan AS bisa semakin memanas dan mengurangi pasokan.
Iran kemarin memperingatkan AS untuk tidak mengirimkan kapal induknya ke Teluk Persia, dan mengancam akan mengambil tindakan bila AS tak balik arah. Ini merupakan pernyataan terkeras Iran setelah berminggu-minggu berbalas ancaman dengan AS.
AS baru saja memberlakukan sanksi atas bank sentral Iran, secara efektif mempersulit transaksi ekspor minyak produsen terbesar keempat dunia itu. Menyusul sanksi tersebut, mata uang Iran rial melemah sekitar 12% terhadap dollar.
Minyak juga didukung oleh data yang memperlihat indeks manufaktur versi ISM naik ke 53,9 di Desember dari 52,7 di Nopember. Data ini menambah bukti sektor manufaktur AS terus tumbuh dan ekonomi terbesar dunia itu semakin pulih.
Tapi kenaikan tajam kemarin memicu aksi profit taking, yang membuat harga naik turun. Pada jam 15:55 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Februari turun 48 sen ke $102,48 per barel, setelah sempat menohok ke $103,15. Sedangkan minyak jenis Brent untuk bulan yang sama turun 1 sen di $112,12 per barel.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Isu Eropa bawa minyak ke $92
- Minyak tenggelam karena Yunani, data API
- Krisis Yunani masih tekan minyak
- Minyak anjlok, ke level terendah dalam 6 bulan
- Minyak anjlok lagi, ditekan Eropa & data China
- Minyak turun, ditekan data EIA
- Data API makin benamkan minyak
- Minyak anjlok ke $97
- Antisipasi payroll, minyak anjlok
- Minyak turun karena data EIA, ADP
- May Day, minyak tak banyak gerak
- Minyak turun setelah S&P pangkas rating Spanyol
- Minyak naik, dibantu data API
- Minyak turun karena data Eropa, China
- Isu pasokan topang minyak



