Minyak di bawah $100 karena data API

Tanggal December 29, 2011 / 2:17 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Jakarta, Strategydesk - Minyak berusaha merangkak naik lagi hari ini, setelah tergelincir semalam karena laporan yang memperlihatkan kenaikan cadangan, indikasi permintaan sedang turun.

American Petroleum Insitute (API) mengatakan cadangan minyak melonjak 9,6 juta barel minggu lalu. Padahal para analis memprediksikan turun 2,3 juta barel. Sedangkan cadangan bensin bertambah 1,9 juta barel dan distillate 600.000 barel.
Data API dijadikan indikator awal sebelum pengumuman data versi pemerintah, yang biasa diumumkan oleh Energy Information Administration (EIA), lembaga di bawah naungan Departemen Energi AS. Data API didapat dari operator atau perusahaan secara sukarela. Sedangkan pemerintah mewajibkan laporan itu dikumpulkan dalam survei mingguan. Tapi kedua data bergerak dalam satu arah 71% selama 10 tahun terakhir.

Pasar juga masih mencermati perkembangan di Teluk Persia. Kemarin, AL AS memperingatkan setiap upaya disrupsi lalu lintas di Selat Hormuz tidak akan ditoleransi.  Pernyataan itu menyusul ancaman Iran yang mengatakan akan menutup selat itu bila sampai minyaknya di embargo. Tapi kemudian Arab Saudi mengatakan ia dan beberapa negara teluk siap menyuplai minyak bila Iran menutup selat itu.

Perang urat syaraf antara Iran dan Barat terus menjadi support bagi harga minyak selama beberapa pekan terakhir. AS berupaya menambah sanksi ke Iran, dengan dukungan sekutunya, dalam rangka menghentikan program nuklirnya, yang dicurigai untuk pengembangan senjata Iran, produsen minyak terbesar keempat dunia, mengatakan program nuklirnya bertujuan damai.

Pada jam 14:02 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Februari naik 18 sen ke $99,54 per barel. Sedangkan minyak jenis Brent untuk bulan yang sama menanjak 23 sen jadi $107,79 per barel.

Pencarian Data

Masukkan kata kunci yang ingin Anda cari

Statistic

eXTReMe Tracker

Advertisement

  • Ezydeal

    Ayo trading menggunakan ezydeal. Buka free account