Minim sentimen, sterling jatuh
Jakarta, Strategydesk - Sterling jatuh ke level terendah dalam sebulan terakhir terhadap dollar hari ini, di tengah minimnya sentimen baru yang membuat aktivitas berisiko menyusut.
The cable pun melemah terhadap euro, yang sedang kurang diminati karena kekhawatiran krisis utang Eropa berpotensi menyebar. Yield obligasi Spanyol tenor 10 tahun naik lagi walau ada perubahan pemerintrah. Meski menyambut baik perubahan itu, pasar butuh diyakinkan bahwa mereka mampu melaksanakan perubahan.
Tidak hanya di Spanyol, krisis utang telah melengserkan pemerintah berkuasa di Yunani, Portugal, Irlandia dan Italia. Tinggal Spanyol dan Italia yang belum mendapat bailout, tapi bila yield mencapai 7% kembali, dan untuk waktu yang lama, maka kedua negara itu bisa ikut menjadi pasien IMF.
Meski demikian, sterling masih rentan dengan pasar masih pesimis dengan prospek ekonomi Inggris. Ini membuka kemungkinan BOE menambah jumlah pembelian asetnya, atau Quantitative Easing (QE). Para analis mengatakan minutes dari rapat terakhir mengindikasikan kesiapan pejabatnya menambah QE. Minggu lalu, anggota dewan Martin Weale mengatakan ada lasan kuat untuk melanjutkan QE sampai tahun depan.
Pada jam 17:30 WIB, sterling diperdagangkan di $1,5694, melemah dari $1,5797 akhir pekan lalu. Terhadap yen, sterling melemah ke 120,70 dari 121,51. Sterling juga melemah terhadap euro ke 85,71 pence per euro dari 85,55 pence.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Aussie masih bearish, sempat tembus paritas
- Setelah anjlok, euro coba bangkit
- Euro, franc melesat atas dollar
- Inggris resesi lagi, sterling koreksi
- Inflasi melambat tajam, aussie anjlok
- Data ritel makin lambungkan sterling
- RBA, isu Eropa tekan aussie
- Yen rally setelah BOJ
- Sterling melaju berkat data PMI
- Eksportir Jepang angkat yen
- BOE Minutes, laporan defisit tekan sterling
- Isu ekonomi China hantam aussie
- Dollar rally, yen terus melorot
- Data bagus, euro tetap lunglai
- Aussie koreksi jelang data, RBA



