Euro terbantu data AS
Jakarta, Strategydesk - Euro berhasil mencatat sedikit penguatan, terbantu oleh aksi short covering setelah upaya untuk membenamkannya mereda.
Data ekonomi AS yang positif juga berhasil membantu sentimen pasar, memberi sedikit risk appetite. Hal ini membuat indeks dollar terkoreksi dari level tertingginya dalam setahun terakhir 80,854 ke 80,410 dan euro merangkak naik dari level terendah dalam 15 bulan terakhir $1,2856 ke $1,2951.
Mata uang tunggal Eropa itu rebound menyusul data yang memperlihatkan initial jobless claims tetap di bawah 400.000 dan indeks manufaktur kawasan Chicagi tetap tumbuh bulan lalu. Ditambah dengan pending home sales, yang tumbuh 7,3% selama Nopember, lebih tinggi dari prediksi 1,5%.
Tapi penguatannya tidak bertahan lama dan akhirnya berakhir di bawah $1,30, mencerminkan keengganan investor memegang euro di akhir tahun. Selain itu, ketidakmampuan euro mempertahankan gain menunjukkan pasar khawatir mengenai krisis utang Eropa.
Hasil lelang obligasi Italia kemarin juga tidak mampu mengangkat euro. Italia hanya menjual sekitar 7 miliar euro obligasi tenor 10 tahun. Jumlah itu di bawah target 9 miliar euro. Italia tidak mampu mengumpulkan jumlah dana sesuai harapan, mengindikasikan efek minimnya likuiditas menjelang akhir tahun.
Obligasi tenor 10 tahun Italia tetap jatuh pasca penjualan itu, dan yield-nya naik lagi ke atas 7%, level yang membuat Yunani, Irlandia dan Portugal minta bailout. Faktor lain yang mungkin mempengaruhi hasil lelang ini adalah kecemasan satu atau lebih negara zona euro akan segera kehilangan rating topnya.
Setelah ECB menawarkan 490 miliar euro ke 523 bank minggu lalu, pasar akan mengamati tanda-tanda likuiditas segar itu digunakan untuk membeli surat utang di pasar obligasi yang sedang bergejolak itu. Tapi pasar juga khawatir sepinya pasar jelang akhri tahun akan semakin mempersulit Italia mengumpulkan dana.
Mengenai mata uang lain, sterling terjungkal, menjadi mata uang berkinerja terburuk minggu ini, karena invesgtor uang riil menjual mata uang Inggris itu. Berbeda dengan euro dan sterling, aussie justru berhasil menanjak, dibantu oleh penguatan saham. Aussie juga dibeli karena pandangan kondisi ekonomi Australia lebih baik dari Eropa dan Inggris.
Dalam perdagangan terakhir tahun ini, pola risk aversion masih berpotensi terjadi, apalagi bila minim katalis. Tidak ada data penting terjadwal di AS malam nanti, data penjualan ritel Jerman dan harga rumah Inggris sepertinya tidak akan banyak membantu.
Rekomendasi
EUR-USD
USD-JPY
GBP-USD
USD-CHF
AUD-USD
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Rekomendasi Trading Forex Sesi Eropa, AS (21 Mei 2012)
- Euro rally, untuk sementara
- Rekomendasi Trading Forex Sesi Eropa, AS (18 Mei 2012)
- Krisis Yunani & Spanyol terus tekan euro
- Euro rebound, tapi masih rentan
- Rekomendasi Trading Forex Sesi Eropa, AS (16 Mei 2012)
- Krisis Yunani memburuk, euro terpuruk
- Rekomendasi Trading Forex Sesi Eropa, AS (15 Mei 2012)
- Kisruh politik Yunani masih bebani euro
- Rekomendasi Trading Forex Sesi Eropa, AS (14 Mei 2012)
- Yunani makin goyang, euro terguncang
- Rekomendasi Trading Forex Sesi Eropa, AS (11 Mei 2012)
- Euro dibayangi krisis Yunani & Spanyol
- Rekomendasi Trading Forex Sesi Eropa, AS (10 Mei 2012)
- Euro masih merana, aussie melesat



