Malapetaka, bila AS default
Jakarta, Strategydesk - Apa yang akan terjadi bila pemerintah AS sampai default? Jawabannya, anda tidak akan mau tahu.
Di saat Gedung Putih dan anggota Kongres bernegosiasi soal menaikkan batas utang pemerintah, para ekonom memperingatkan malapetaka ekonomi bila kesepakatan gagal dicapai dan negara sampai gagal bayar bulan depan.
“Hal itu (default) bisa memicu resesi kembali,” kata Nariman Bahravesh, ekonom dari IHS Inc, lembaga riset ekonomi di Lexington. “Bisa terjadi krisis kepercayaan yang membuat pasar keuangan gonjang-ganjing.”
Pemerintah AS sejak lama dalam kondisi lebih besar pasak dari pada tiang, artinya lebhi banyak pembelanjaan dari penerimaan. Karena itu, Paman Sam selalu membiayai defisit dengan pinjaman. Menaikkan pagu utang (debt limit), agar bisa membayar kreditor sekaligus membiayai kegiatan operasional, menjadi prosedur rutin.
Tapi, kini utang sudah mencapai $1,4 triliun dan negosiasi untuk menaikkan pagu utang selalu menemui jalan buntu. Kubu Republik, yang kini mengendalikan Kongres, selalu mengancam tidak mau menyetujui kecuali pemerintah bersedia memangkas pembelanjaan. Di sisi lain, Gedung Putih, bersama dengan Demokrat, menyerukan kenaikan pajak.
Bila terjadi technical default, yield obligasi, atau biaya yang harus dibayar AS untuk meminjam uang, akan melonjak. Tingkat yield Treasury, yang kini berada di 3,1%, bisa naik ke 5%, menurut Behravesh.
Bunga KPR, obligasi korporat, kartu kredit, pinjaman kendaraan bermotor, dan bentuk kredit lain akan ikut naik, semakin mencekik bisnis dan konsumen. Semua itu bisa terjadi bila ekonomi masih rentan terhadap guncangan.
“Default merupakan bencana bagi pasar keuangan, ekonomi, dan semakin menyempitkan lapangan kerja, kata Mark Zandi, ekonom dari Moody’s Analytics di West Chester, Philadelphia.
Tapi sebagian besar pengamat ekonomi dan politik yakin Demokrat dan Republik akan mencapai kesepakatan sebelum pemerintah mencapai batas utangya $14,3 triliun pada 2 Agustus dan kehilangan otoritas legalnya untuk membiayai program federal.
“Pada akhirnya, ini menjadi isu politik,” kata Thomas Luster, pengamat dari Eaton Vance Corp di Boston. “Tahu taruhannya, saya menempatkan probabilitas rendah atas default.” Luster juga menyebutkan pasar, dengan tidak mendorong yield, optimis kesepakatan akan dicapai.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Tsipras: Progam penghematan harus dikaji ulang
- Mengenal sosok Francois Hollande
- Roubini: Liburan usai, krisis utang kembali
- Spanyol menuju krisis finansial pada 2013
- Menkeu Jerman: Dana talangan cukup, tak perlu tambah lagi
- Survei tunjukkan optimisme atas dollar
- Default & exit Yunani: Baik untuk euro, buruk bagi korporat
- Apa sebenarnya LTRO ECB?
- Krugman: Yunani kehabisan alternatif
- Meski Diprotes, Parlemen Yunani Setujui Penghematan
- Hemat anggaran, Yunani PHK 15.000 PNS
- Ekonomi masih jadi fokus kampanye pilpres AS
- IMF : Asia punya ruang untuk stimulus
- Roubini: Yunani keluar dari euro setahun lagi
- Draghi optimis tahun ini lebih baik



