Krisis utang Italia dimulai?
Jakarta, Strategydesk - Sejak awal krisis utang Eropa dimulai dua tahun lalu, salah satu ketakutan besar di pasar adalah penularannya, di tengah tumpukan utang dan lesunya pertumbuhan yang menerpa banyak negara di benua biru itu.
Perkembangan terakhir menambah ketakutan tersebut. Pasar keuangan dunia terguncang setelah yield obligasi Italia menembus 7%, level psikologis yang dianggap membahayakan keuangan negara itu, yang sudah punya utang sebesar hampir 2 triliun euro, atau 120% PDB. Level itu juga yang membuat negara seperti Yunani, Irlandia dan Portugal meminta bantuan uni Eropa dan menjadi pasien IMF.
Kenaikan yield itu menyusul langkah dua lembaga kliring besar Eropa yang menaikkan menaikkan persyaratan jaminan bagi investor yang menggunakan surat utang Italia sebagai jaminan pinjaman, membuatnya semakin mahal untuk menukar obligasi itu.
Tapi, situasi memang sebenarnya sudah mengkhawatirkan. Kurang puas dengan lengsernya Perdana Menteri Silvio Berlusconi, pasar terfokus pada kebuntuan politik yang akan terjadi pasca kepergiannya, dan tugas berat yang menanti penggantinya, yaitu mengembalikan pertumbuhan di negara yang ekonominya lesu selama satu dekade terakhir, dan membayar utang yang 2 triliun euro itu.
Sebagai ekonomi terbesar ketiga Eropa, dan utang yang sebesar itu, Italia, tidak seperti Yunani, dianggap terlalu besar untuk gagal (too big to fail). Di sisi lain, negara itu juga terlalu besar untuk dibantu (too big to bail). Utang Italia adalah yangt terbesar kedua di Eropa dan keempat di dunia. Tahun depan, lebih dari 300 miliar euro utangnya jatuh tempo.
Eskalasi terakhir menambah bukti bagaimana krisis utang Eropa menjalar, dimulai dari kemelut di negara kecil hingga menjadi badai yang menerpa negara besar. Dari sini, risiko ke ekonomi global semakin luas. Sistem finansial Eropa dan AS saling terkoreksi, ini terbukti ketika terjadi krisis di AS pasca kebangkrutan Lehman Brothers, dimana Eropa terkena imbasnya.
Eropa telah membentuk dana talangan, atau yang disebut dengan European Financial Stability Facility (EFSF). Tapi diperlukan berbulan-bulan untuk bisa mencapai kesepakatan bagaimana dana itu didapatkan dan digunakan. Bagaimanapun, jumlah itu masih terlalu kecil untuk menutup utang negara besar seperti Italia.
Banyak kalangan yang berharap pada ECB untuk lebih berperan. ECB memang diberitakan membeli surat utang Italia di pasar sekunder dalam rangka meredam yield-nya, meski efeknya belum banyak terlihat. ECB sebenarnya enggan membiayai pemerintah, namun akhirnya terpaksa terjun ke pasar sekunder. Bila ECB terus menolak terlibat, banyak analis melihat solusi satu-satunya adalah global, karena Eropa semakin terlihat tidak mampu menyelamatkan dirinya.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- G-8 belum mampu yakinkan pasar
- Jepang mulai optimis dengan prospek ekonomi
- Yunani harus gelar pemilu ulang
- Euro, cacat sejak lahir
- Pejabat Eropa bersiap kemungkinan keluarnya Yunani dari euro
- Krisis perbankan, dilema Spanyol
- Meski surplus bertambah, ekspor & impor China melambat
- Jerman ke Yunani: Langgar aturan, tak ada bantuan
- Perancis & Yunani picu era ketidakpastian baru
- Yunani berisiko keluar dari euro?
- Draghi tetap buka ruang tindakan bila diperlukan
- ECB coba bertahan di tengah tekanan
- Manufaktur China membaik, indikasi pemulihan
- RBA pangkas rate 50 bps
- Spanyol dalam jeratan resesi



