Komentar pejabat Eropa pasca downgrade
Jakarta, Strategydesk - Eropa mengkritik langkah Standard & Poor’s yang memangkas peringkat sembilan negara zona euro. Tapi beberapa pejabatnya juga melihat perlunya semakin berbenah pasca insiden ini.
Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan penurunan rating ini sebagai peringatan agar bergerak lebih cepat dalam perjalanan panjang proses reformasi. Menurutnya, penurunan rating, termasuk Perancis dan Austria, memperjelas perlunya integrasi fiskal.
Merkel mengatakan langkah lembaga rating ini janganlah dianggap sebagai penghancur upaya perbaikan, tapi menjadi cambuk agar lebih gigih demi tercapainya aturan fiskal baru dan mengembalikan kepercayaan investor. “Keputusan itu menegaskan bahwa kita masih jauh sebelum kepercayaan pasar kembali. Masalah utang zona euro tidak bisa diselesaikan dalam hitungan hari atau bulan, ini adalah proses panjang, sama seperti utang yang menumpuk dalam jangka panjang,” katanya.
Bagi Presiden Perancis Nicolas Sarkozy, penurunan rating ini menjadi pukulan telak yang dapat memupuskan peluangnya terpilih kembali. Ia mengatakan negara dan institusi di Eropa harus menunjukkan keberanian dan keseriusan dalam upayanya mengatasi krisis utang. “Kini, kita harus membuat gebrakan, tidak hanya negara di zona euro yang sedang melakukan perbaikan, tapi juga instituasi Eropa, turut berpartisipasi melindungi euro,” ujarnya.
Menteri Keuangan Perancis Francois Baroin mengatakan langkah S&P ini adalah berita buruk, tapi mengingat banyaknya negara lain yang punya masalah utang, penurunan rating ini bukanlah malapetaka.
Sementara itu, anggota dewan ECB Ewald Nowotny mengatakan pihaknya akan berusaha menenangkan pasar setelah penurunan rating ini. “Bagi kami, semua upaya akan ditempuh untuk menenangkan situasi,” katanya. Ia mengatakan telah berbicara dengan S&P mengenai downgrade itu dan meyakini hal tersebut mencerminkan kekhawatiran mengenai cara Eropa mengatasi krisis.
Dalam beberapa minggu terakhir, para pemimpin Eropa memang terlihat sibuk mencari cara agar masalah utang ini tuntas. Mereka berhasil mencegah krisis perbankan, tapi belum bisa meyakinkan lembaga rating default bisa dihindari.
Seperti diberitakan, S&P mencopot Perancis dari rating topnya, dan memangkas delapan negara lainnya, menambah kekhawatiran gejolak finansial di Eropa bisa memburuk. Sehari setelah isu dan spekulasi, S&P akhirnya secara resmi, mengumumkan pada akhir pekan lalu, menurunkan rating Perancis satu tingkat dari AAA ke AA+. Negara lainnya yang juga diturunkan satu tingkat adalah Austria, Malta, Slovakia dan Slovenia.
S&P memberi berita lebih buruk ke Italia, Spanyol, Siprus dan Portugal, dengan diturunkan dua peringkat. Downgrade ini membawa Siprus dan Portugal ke status junk, yang sudah ditempati oleh Yunani. Sedangkan negara yang tidak terkena downgrade, kali ini, antara lain Jerman, Belgia, Irlandia, Finlandia, Belanda, Luksemburg dan Estonia.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- G-8 belum mampu yakinkan pasar
- Jepang mulai optimis dengan prospek ekonomi
- Yunani harus gelar pemilu ulang
- Euro, cacat sejak lahir
- Pejabat Eropa bersiap kemungkinan keluarnya Yunani dari euro
- Krisis perbankan, dilema Spanyol
- Meski surplus bertambah, ekspor & impor China melambat
- Jerman ke Yunani: Langgar aturan, tak ada bantuan
- Perancis & Yunani picu era ketidakpastian baru
- Yunani berisiko keluar dari euro?
- Draghi tetap buka ruang tindakan bila diperlukan
- ECB coba bertahan di tengah tekanan
- Manufaktur China membaik, indikasi pemulihan
- RBA pangkas rate 50 bps
- Spanyol dalam jeratan resesi



