Keputusan OPEC pukul minyak
Jakarta, Strategydesk - Minyak berjuang bangkit hari ini setelah tumbang kemarin karena OPEC di luar dugaan menaikkan kuota produksi. Minyak juga tertekan di tengah mencuatnya kekhawatiran soal krisis utang.
Minyak anjlok ke level terendah dalam lima minggu terakhir setelah OPEC sepakat menambah target produksi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun terakhir, langkah yang mengindikasikan Arab Saudi dan Iran menyingsingkan perbedaan soal output, paling tidak untuk sementara. Grup itu menaikkan kuota menjadi 30 juta barel per hari.
Sebenarnya, tingkat produksi kelompok itu sudah mendekati level tersebut akhir-akhir ini, dan tidak ada target yang ditetapkan untuk produksi masing-masing anggota. Tapi kesepakatan itu punya nilai simbolis datang enam bulan setelah pertemuan OPEC sebelumnya yang berakhir tanpa kesepakatan.
“Kami punya komitmen untuk menjaga keseimbangan pasar,” kata Rafael Ramirez, Menteri Energu Venezuela, yang sempat bersama Iran menentang gagasan Arab Saudi untuk menaikkan prodyuksi dalam rangka membantu pemulihan ekonomi global. Arab Saudi, merupakan yang produsen minyak terbesar di grup itu, telah menaikkan produksinya dalam 10 bulan terakhir ketika revolusi menghentikan produksi minyak di Libya.
Kuota baru itu menggantikan batas lama 24,5 juta barel per hari, yang ditetapkan tiga tahun lalu ketika ekonomi global dan harga minyak terpukul oleh krisis finansial. Menteri minyak Iran, Rostam Ghasemi, meyampaikan pandangan sepakat dengan Arab Saudi bahwa OPEC harus mengakomodasi pasar dunia dengan pasokan berlimpah untuk mencegah harga menjulang.
Minyak juga turun karena kekhawatiran soal krisis utang menyusul kenaikan yield Italia. Negara itu berhasil menjual 3 miliar euro obligasi, namun dengan yield sebesar 6,47%. Kenaikan yield ini menjadin indikasi investor masih belum yakin dengan langkah yang diambil Italia dalam hal ini PM-nya Mario Monti. Kenaikan yield Italia menunjukkan optimisme pasar sudah pudar hanya beberapa hari setelah pertemuan krusial. Monti menghadapi penolakan dari pejabat konservatif dan pemimpin buruh karena pogram pengetatan.
Pada jam 13:46 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Januari naik 21 sen ke $95,16 per barel, setelah sempat bergerak di $100 kemarin. Sedangkan minyak jenis Brent untuk bulan yang sama menguat 88 sen jadi $105,90 per barel.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Isu Eropa bawa minyak ke $92
- Minyak tenggelam karena Yunani, data API
- Krisis Yunani masih tekan minyak
- Minyak anjlok, ke level terendah dalam 6 bulan
- Minyak anjlok lagi, ditekan Eropa & data China
- Minyak turun, ditekan data EIA
- Data API makin benamkan minyak
- Minyak anjlok ke $97
- Antisipasi payroll, minyak anjlok
- Minyak turun karena data EIA, ADP
- May Day, minyak tak banyak gerak
- Minyak turun setelah S&P pangkas rating Spanyol
- Minyak naik, dibantu data API
- Minyak turun karena data Eropa, China
- Isu pasokan topang minyak



