Kapitalisme tak terkendali picu pengangguran, kesenjangan dan protes

Tanggal October 17, 2011 / 10:32 am. Oleh: Nizar Hilmy

Jakarta, Strategydesk - Gelombang protes yang berlangsung di AS saat ini mencerminkan munculnya gejolak sosial dan politik global. Menurut Dr. Nouriel Roubini, penyebab utama gejolak itu datang dari banyaknya pengangguran, upah stagnan, dan dipicu oleh kegagalan laissez-faire, kapitalisme tak terkendali dan pasar bebas.

Dalam tulisannya yang dimuat di Reuters, Roubini, professor New York University yang empat tahun lalu secara akurat memprediksikan krisis finansial global, mengatakan sistem ekonomi global saat ini, kapitalisme, masih tetap berada dalam krisis saat ini, krisis yang ekonom Karl Marx prediksikan lebih dari satu abad lalu, sampai reformasi sistemik diimplementasikan.

Roubini mengatakan gejolak sosial dan demonstrasi dikendalikan oleh faktor yang sama, menunjukkan periode krisis bagi kapitalisme itu sendiri. Krisis saat ini adalah yang paling serius sejak Depresi Besar 1930, dan dipicu oleh intermediasi finansial yang ceroboh dan redistribusi destruktif pendapatan dan kekayaan, dari buruh hingga modal.

“Negara yang akhir-akhir ini digoyang gejolak sosial dan demonstrasi politik dikendalikan oleh masalah yang sama, yaitu kesenjangan, kemiskinan, pengangguran dan ketidakberdayaan. Bahkan masyarakat kelas menengah kini merasakan penurunan pendapatan dan kesempatan,” ujarnya.

Menurutnya, para kelas pekerja dan menengah itu memprotes ketidakadilan di tengah kekuatan yang berpusat pada elit ekonomi, finansial dan politik. “Penyebabnya cukup jelas, tingginya pengangguran, kurangnya kesempatan kerja, rendahnya keahlian dan pendidikan bagi muda untuk bersaing dalam globalisasi, kebencian terhadap korupsi, termasuk seperti lobi-melobi, dan semakin besarnya kesenjangan pendapatan dan kekayaan.”

Perusahaan di negara maju kini mengurangi tenaga kerja karena merosotnya permintaan. Tapi keputusan itu semakin mengurangi permintaan karena berkurangnya pendapatan. Hasilnya, pasar bebas tidak menciptakan permintaan akhir yang cukup.

Menurut Roubini, masalah ini tidaklah baru, tapi pernah diutarakan oleh Karl Marx. Meski sosialis, ia benar dengan globalisasi, ketidakadilan distribusi pendapatan dan kekayaan, bisa membuat  kapitalisme destruktif. Marx berargumen, kapitalisme yang tak terkendali menyebabkan munculnya gejolak finansial, yang dipicu oleh penggelembungan asset. “Dengan kata lain, kritik Marx terhadap kapitalisme terbukti dalam krisis finansial,” katanya.

Meski demikian, Roubini menawarkan solusi untuk memperbaiki kapitalisme. Menurutnya, tidak cukup dengan mendorong lapangan kerja dan menurunkan pajak. Tapi ada perlunya mengembalikan keseimbangan anatar pasar dan provisi barang publik. Ini berarti menjauhi modal ekonomi pasa bebas Anglo-Saxon dan  model Eropa kesejahteraan yang dikendalikan defisit, karena kedua sistem cacat.

Keseimbangan itu membutuhkan antara lain penciptaan lapangan kerja melalui stimulus fiskal untuk investasi infrastruktur, perpajakan progresif yang dibarengi dengan disiplin fiskal, lender of the laset resort otoritas moneter untuk mencegah rush perbankan, pengurangan beban utang konsumen dan entitas ekonomi lainnya, pengawasan sistem finansial yang lebih ketat, dan memecah bank besar yang bangkrut dan perusahaan oligarkis.

Pencarian Data

Masukkan kata kunci yang ingin Anda cari

Statistic

eXTReMe Tracker

Advertisement

  • Ezydeal

    Ayo trading menggunakan ezydeal. Buka free account