Inflasi China naik 5,5%
Jakarta, Strategydesk - Inflasi China melambat signifikan bulan lalu, memberi ruang ke Beijing untuk mulai melonggarkan kebijakan moneternya, di tengah kekhawatiran mengenai perlambatan ekonomi global.
Inflasi naik 5,5% selama Oktober dari tahun lalu, lebih rendah dibandingkan 6,1% pada September, menurut data badan statistik setempat. Angka terbaru itu sesuai dengan prediksi banyak analis. Data ini memperkuat ekspektasi inflasi sedang dalam tren menurun dan semakin membuka peluang untuk penyesuaian kebijakan.
Namun, banyak ekonom yang masih belum yakin pelonggaran kebijakan secara substansial dapat terjadi dalam waktu dekat, seperti pemangkasan suku bunga atau Giro Wajib Minimum (GWM). Ekonom dari Bank of America- Merril Lynch, Lu Ting, mengatakan China kemungkinan melanjutkan penggunaan alat lain, termasuk penyuntikan likuiditas ke pasar keuangan melalui bank sentral dan dukungan pembiayaan untuk proyek publik seperti konstruksi rel.
Para pemimpin China juga tetap waspada soal inflasi. Perdana Menteri Wen Jiabao mengatakan dalam kunjungannya di Rusia minggu lalu bahwa meski inflasi turun, upaya untuk meredamnya akan menghadapi tantangan ketika musim dingin.
Harga pangan turun, seperti yang diharapan, dengan indeks komponen harga pangan naik 11,9% dari tahun lalu, lebih rendah dibandingkan 13,4% di September. Harga daging babi naik 39% di Oktober setelah melonjak 44% bulan sebelumnya.
Badan statistik juga melaporkan indeks harga produsen, indikator yang menggambarkan kondisi harga dari sisi produsen, melambat tajam. Indeks PPI naik 5,0% selama Oktober dari tahun lalu, melambat dari 6,5% di September dan di bawah prediksi 5,8%.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- G-8 belum mampu yakinkan pasar
- Jepang mulai optimis dengan prospek ekonomi
- Yunani harus gelar pemilu ulang
- Euro, cacat sejak lahir
- Pejabat Eropa bersiap kemungkinan keluarnya Yunani dari euro
- Krisis perbankan, dilema Spanyol
- Meski surplus bertambah, ekspor & impor China melambat
- Jerman ke Yunani: Langgar aturan, tak ada bantuan
- Perancis & Yunani picu era ketidakpastian baru
- Yunani berisiko keluar dari euro?
- Draghi tetap buka ruang tindakan bila diperlukan
- ECB coba bertahan di tengah tekanan
- Manufaktur China membaik, indikasi pemulihan
- RBA pangkas rate 50 bps
- Spanyol dalam jeratan resesi



