Inflasi China hambat laju saham Asia
Jakarta, Strategydesk - Pergerakan saham Asia diawal perdagangannya minggu ini diperkirakan masih dalam range terbatas. Indeks utama di bursa Wall Street yang mencatat hasil positif berkat data ekonomi AS yang menunjukkan perbaikan, seperti laporan Departemen Perdagangan AS yang menyatakan neraca perdagangan mengalami deficit yang lebih kecil, lebih dari yang diharapkan pada bulan Oktober lalu.
Namun, pelaku pasar kini dihadapkan pada data inflasi China yang diluar dugaan mengalami kenaikan 5,1% di Nopember dari 4,4% bulan sebelumnya. Tingginya laju inflasi ini dikhawatirkan akan memaksa pemerintah China lebih cepat untuk menerapkan kebijakan pengetatan moneter. Sebelum rilisan data inflasi, pihak bank sentral China (PBOC), telah menaikkan syarat minimum cadangan modal perbankan sebesar 50 basis poin. Kenaikan ini akan berlaku efektif 20 Desember dan menjadi yang keenam secara berturut di tahun ini. Namun, para analis melihat langkah ini hanya untuk menunda kenaikan suku bunga.
Hampir tidak adanya data ekonomi yang menjadi acuan pergerakan saham Asia, menjadi sentimen mengenai China dan data AS memberi peranan penting. Kendati dalam beberapa hari kedepan pelaku pasar dihadapkan serangkaian data ekonomi penting seperti rapat regular The Fed, survey sentimen bisnis Tankan, ZEW indeks dan IFO Jerman.
Nikkei Futures Kontrak Maret (SSIH1)
Indeks Nikkei terkoreksi Jumat lalu, karena harga akhir kontrak berjangka dan opsi yang lebih tinggi dari prediksi mendorong investor untuk melakukan aksi ambil untung. Mereka memanfaatkan penguatan indeks hingga 12% sejak awal Nopember. Meski sentimen untuk Nikkei masih bullish, para analis indikasi teknikal menunjukan pasar sedang mencapai fase overbought. Selain itu, investor asing mulai melepas posisi dan melakukan hedging menjelang liburan Natal dan Tahun Baru. Indeks Nikkei ditutup melemah 73,93 poin, atau 0,72%, di 10.211,95.
Meski berpeluang melanjutkan tren penguatannya, indeks Nikkei sebenarnya dinaungi awan negatif. Faktor teknikal yang terindikasi overbought. Otsuka Holdings jadi fokus jelang listing di bursa Tokyo 15 Desember mendatang.
Kospi Futures Kontrak Maret (KSH1)
Indeks Kospi juga mencatat hasil negatif dengan turun tipis karena aksi ambil untung setelah menggapai level tertinggi dalam tiga tahun terakhir kemarin. Indeks Kospi ditutup melemah 2,82 poin, atau 0,14%, di 1.986,14.
Indeks Kospi mengawali perdagangannya minggu ini diperkirakan dalam kisaran terbatas ditengah kehati-hatian pelaku pasar mengenai langkah pemerintah China dalam mengendalikan laju inflasi, dimana kebijakan pengetatan moneter jadi solusi China untuk meredam inflasi. Selain itu, pencapaian indeks mencetak rekor tertinggi dalam 3 tahun terakhir kemungkinan masih sulit untuk berlanjut karena adanya kekhawatiran aksi profit taking.
Hang Seng Futures Kontrak Desember (HSIZ0)
Indeks Hang berakhir flat akhir pekan lalu karena tertekannya saham bank dan properti menjelang data inflasi China. Data itu diperkirakan akan menunjukan inflasi naik 4,7% di Nopember, tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Indeks Hang Seng ditutup melemah 8,89 poin, atau 0,04%, di 23.162,91.
Indeks Hang seng diperkirakan bergerak dalam kisaran sempit hari ini, karena pelaku pasar coba cermati langkah China pasca dirilisnya data inflasi yang menembus 5%, tertinggi dalam 8 bulan terakhir. Jumat lalu, Bank Sentral China menaikan rasio kecukupan modal perbankan sebesar 50 bps. Ini merupakan ketiga kalinya dalan sebulan PBOC melakukan hal itu. Namun, Para analis melihat langkah ini hanya untuk menunda kenaikan suku bunga.
Rekomendasi
NIKKEI
KOSPI
HANG SENG
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Dollar masih kuat, emas kian terpuruk
- Bernanke ancam laju IHSG
- Koreksi DJI, IHSG Sulit Tembus 4.025
- Inflasi serta krisis utang Eropa masih menopang emas
- Mampukah IHSG jauhi support 3.770
- Energi topang Hang Seng
- Saham Asia coba bangkit awal pekan ini
- Laju saham Asia menguat terbatas
- Inflasi China hambat laju saham Asia
- Wall Street gairahkan saham Asia
- Saham Asia masih rentan
- Kejatuhan bursa Asia terbatas
- Kejatuhan bursa Asia masih terbatas
- Laju bursa Asia tertahan
- Kejatuhan bursa utama Asia terbatas



