Euro dekati $1,30
Jakarta, Strategydesk - Euro terus berusaha mendekati level psikologis $1,30, di tengah tertekannya dollar. Kekhawatiran mengenai pemulihan ekonomi AS terus menekan dollar, membuat jatuh terhadap rival utamanya seperti euro dan yen.
Greenback tertekan menyusul data yang memperlihatkan penurunan aktivitas manufaktur di New York dan Philadelphia. Indeks manufaktur New York anjlok ke 5,08 pada Juli lebih buruk dari prediksi 18,00. Indeks manufaktur Philadelphia juga mengalami penurunan tajam, ke 5,1 di Juli, lebih buruk dari prediksi 10,0. Kedua data tersebut mengindikasikan mulai lesunya aktivitas sektor manufaktur di dua kawasan itu.
Kondisi ekonomi yang lesu membuat the Fed terus memberlakukan suku bunga rendahnya. Kejatuhan dollar ini terjadi meski di saat saham Asia bertumbangan. Yen, yang biasa bersanding dengan dollar sebagai safe haven, menembus level tertingginya tahun ini terhadap mata uang AS itu.
Euro juga menguat karena pernyataan China mengenai investasinya di Eropa. Perdana Menteri Wen Jiabao, dalam pertemuannya dengan Kanselir Jerman Angela Merkel, mengatakan Eropa tetap menjadi pasar kunci investasi cadangan devisanya.
Pada jam 16:40 WIB, dalam perdagangan di Eropa, euro diperdagangkan di $1,2978, menguat dari level penutupan sesi sebelumnya $1,2931. Euro sempat menyentuh $1,2986, tertinggi dalam dua bulan terakhir. Dollar juga melemah terhadap yen ke 87,23 dari 87,36.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Yen tetap kuat di tengah ekspektasi buruknya prospek ekonomi
- PDB Inggris tak bantu sterling
- Data CBI angkat sterling
- Euro jatuh karena pernyataan Weber
- Data ritel angkat sterling
- Rally euro hanya sementara
- Data output tekan euro
- Euro terkoreksi, the Fed dinanti
- Rupiah hanya melemah tipis
- Euro rebound jelang ECB
- Isu stimulus the Fed tekan dollar
- Rupiah ke 8.950, BI intervensi
- Data Ifo angkat euro
- Sterling terangkat data ritel Inggris
- Jelang BOC, dollar Kanada menguat



