Eropa krisis, manufaktur China & India tetap kuat
Jakarta, Strategydesk - Sektor manufaktur China dan India membaik bulan lalu, pertanda dua ekonomi terpesat dunia itu masih mampu bertahan menghadapi krisis utang Eropa.
Indeks PMI China naik ke 50,3 di Desember dari 49 di Nopember, menurut data yang diumumkan oleh China Federation of Logistics and Purchasing (CFLP) pada Minggu. Sedangkan indeks PMI India naik ke 54,2 di Desember, tertinggi dalam enam bulan terakhir, dari 51 di bulan sebelumnya, menurut laporan HSBC Holdings dan Markit Economics kemarin. Angka di atas 50 menandakan pertumbuhan, di bawah itu berarti kontraksi.
Para analis sepakat data ini mengindikasikan Tahun Baru dan Festival Musim Semi mendorong permintaan. Mereka melihat peningkatan konsumsi di akhir tahun, baik domestik maupun luar, berperan sebagai kunci tumbuhnya kembali aktivitas manufaktur China. Tahun Baru dan Festival Musim Semi dianggap sebagai periode emas konsumsi.
Menambah sentimen positif, indeks PMI non manufaktur China melonjak ke 56,0 pada Desember dari 49,7 di Nopember, data dari CLFP memperlihatkan hari ini. Krisis Eropa masih mengurangi permintaan ekspor Asia, dengan indeks ekspor China masih kontraksi. Pertumbuhan ekonomi China melambat selama 2011, karena dua mitra dagang terbesarnya, Eropa dan AS, berjuang lepas dari krisis yang melilitnya. PDB tumbuh 9,1% di kuartal ketiga, melambat dari 9,5% tahun lalu.
Pertanyaannya, apakah sektor manufaktur China dapat terus pulih di Januari? Sepertinya sektor itu berpotensi tertekan kembali di bulan itu. Tapi bukan karena kondisi fundamental ekonomi, tapi dampak dari persiapan perayaan Tahun Baru Imlek yang dimulai pada 23 Januari sampai 28 Januari. Orang China kemungkinan akan berlibur untuk mempersiapkan dan merayakann Tahun Baru itu.
Perayaan biasanya berlangsung selama 15 hari. Di masa lalu, hal ini menekan indeks PMI di Januari. Tapi setelah itu, aktivitas manufaktur akan menggeliat lagi, karena permintaan dan produksi kembali ke level normal.
Di India, sektor manufaktur tumbuh berkat peningkatan output dan permintaan. HSBC mengatakan pada data PMI India, semua indikator, dari output, lapangan kerja, order dan ekspor, mengalami kenaikan. Tapi bank itu juga memperingatkan pertumbuhan ekonomi India akan dihambat oleh tingginya suku bunga dan perlambatan ekonomi global. Suku bunga India saat ini 8,5%, setelah 13 kali kenaikan sejak Maret 2010. Bank Sentral India (RBI) akan menggelar rapat reguler pada 24 Januari nanti.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Jepang mulai optimis dengan prospek ekonomi
- Yunani harus gelar pemilu ulang
- Euro, cacat sejak lahir
- Pejabat Eropa bersiap kemungkinan keluarnya Yunani dari euro
- Krisis perbankan, dilema Spanyol
- Meski surplus bertambah, ekspor & impor China melambat
- Jerman ke Yunani: Langgar aturan, tak ada bantuan
- Perancis & Yunani picu era ketidakpastian baru
- Yunani berisiko keluar dari euro?
- Draghi tetap buka ruang tindakan bila diperlukan
- ECB coba bertahan di tengah tekanan
- Manufaktur China membaik, indikasi pemulihan
- RBA pangkas rate 50 bps
- Spanyol dalam jeratan resesi
- BOJ tambah stimulus moneter



