Eropa, AS lambat benahi utang
Jakarta, strategydesk - Baik Eropa maupun AS dianggap lambat dalam menyelesaikan masalah utangnya, yang membuat kepercayaan pasar semakin menipis.
Hingga kini, belum ada resolusi jelas untuk mengentaskan krisis utang Eropa, meski sudah ada mekanisme yang disebut dengan Fasilitas stabilitas Finansial Eropa (EFSF). Kalau di AS, negosiasi antara Republik dan Demokrat gagal mencapai kesepakatan mengenai pos-pos yang dipangkas untuk dapat mengurangi defisit $1,2 triliun selama satu dekade ke depan.
Tapi, baik di Eropa maupun di AS, faktor penghambatnya sama, yaitu politik. Inilah yang membuat Eropa, yang terdiri dari berbagai negara, kesulitan mendapatkan titik temu soal cara mengatasi krisis. Seperti Jerman dan Perancis, yang beberapa kali berselisih paham, terakhir mengenai gagasan obligasi euro dan intervensi ECB.
Faktor politik juga yang membuat Republik dan Demokrat terus bertikai di Kongres AS, seperti minyak dan air. Kedua kubu itu punya agenda masing-masing. Republik mengusung pemangkasan tunjangan sosial, dan Demokrat menuntut kenaikan pajak.
Ada implikasi serius karena gejolak ekonomi di AS dan Eropa bisa menyebar ke negara lain. Oleh karena itu, keduanya harus bergerak lebih cepat untuk mengendalikan situasi. Sebulan setelah para pemimpin Eropa mencapai kesepakatan soal dan talangan dan restrukturisasi utang untuk Yunani, pasar keuangan kembali dicekam pesimisme dan menuntut lebih banyak.
Krisis utang telah melengserkan beberapa pemimpin, di Yunani, Irlandia, Portugal, Italia dan Spanyol. Di semua negara itu telah terjadi pergantian kekuasaan dan yang terbaru adalah Italia, Yunani dan Spanyol. Tapi pasar masih skeptis mengenai apakah pemerintahan baru itu mampu melaksanakan rekonstruksi fiskal.
Karena itu, yield obligasi Italia menembus 8% akhir pekan lalu, menimbulkan keresahan akan kemampuan negara itu melaksanakan pengetatan. Perkembangan yang mengejutkan lainnya adalah kegagalan Jerman mengumpulkan dana sesuai target dalam lelang obligasi pekan lalu.
Para pemimpin zona euro akan bertemu besok di mana aturan operasi jelas untuk EFSF akan siap disetujui. Persetujuan itu akan memuluskan jalan fasilitas senilai 440 miliar euro itu untuk menarik dana dari investor swasta. Pasar semakin geram dengan lambatnya para pejabat Eropa bergerak untuk mengatasi krisis yang berpotensi menjerumuskan kembali dunia ke lubang krisis.
Belum ada perkembangan lebih lanjut soal rencana pengurangan defisit AS, selain pemotongan pembelanjaan otomatis $1,2 triliun akan berjalan mulai 2013 karena kegagalan negosiasi. Pasar kini ingin mengetahui apakah Kongres konsisten melaksanakan aturan tersebut. Moody’s Investor Service memperingatkan bisa menurunkan rating AS bila Kongres menunda atau membatalkan pemotongan itu.
Sebenarnya, yang dibutuhkan untuk mengatasi masalah utang, baik di Eropa maupun di AS, adalah niat politik (political will). Para pemimpin politik mau tidak mau harus berkompromi, bahkan mengalah, demi mencapai kebaikan bersama. Semakin lama mereka menunda, semakin buruk situasi dan semakin mahal pula biaya yang harus ditanggung untuk mengatasinya.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Jepang mulai optimis dengan prospek ekonomi
- Yunani harus gelar pemilu ulang
- Euro, cacat sejak lahir
- Pejabat Eropa bersiap kemungkinan keluarnya Yunani dari euro
- Krisis perbankan, dilema Spanyol
- Meski surplus bertambah, ekspor & impor China melambat
- Jerman ke Yunani: Langgar aturan, tak ada bantuan
- Perancis & Yunani picu era ketidakpastian baru
- Yunani berisiko keluar dari euro?
- Draghi tetap buka ruang tindakan bila diperlukan
- ECB coba bertahan di tengah tekanan
- Manufaktur China membaik, indikasi pemulihan
- RBA pangkas rate 50 bps
- Spanyol dalam jeratan resesi
- BOJ tambah stimulus moneter



