Ekspor China melambat, tapi surplus bertambah
Jakarta, Strategydesk - Meski pertumbuhan ekspor China melambat, surplus perdagangan ternyata bertambah, karena berkurangnya impor. Tapi ini bisa menjadi indikasi bahwa ekonomi terbesar kedua itu melambat.
Suprlus perdagangan meningkat jadi $16,52 miliar pada Desember dari $14,53 miliar di Nopember, menurut data dari Bea Cukai China, mematahkan prediksi turun ke $7,8 miliar, Data ini menjadi bukti positif perlambatan di negara maju belum memukul ekspor China seperti yang diperkirakan banyak kalangan. Di saat yang sama, melambatnya impor bisa menjadi pertanda negatif bahwa permintaan domestic China justru melesu.
Ekspor tumbuh 13,4% pada Desember dari tahun lalu. Meski lebih rendah dari angka Nopember yang 13,8%, angka itu masih di atas proyeksi 12,5%. Sedangkan impor melambat signifikan, hanya tumbuh 11,8% dari 22,1%, di bawah prediksi 18%. Melambatnya ekspor bisa mengurangi kemampuan China memimpin pemulihan global seperti pada 2008.
Tapi selama 2011, surplus perdagangan mencapai $155,14 miliar, turun 15,3% dari 2010. Ekspor naik 20,3% dari 2010, sedangkan impor tumbuh 24,9%. Data ini bisa dijadikan bukti bahwa China sedang membuat kemajuan dalam menggeser struktur ekonomi dari eksopr ke pola konsumsi domestik.
Wakil Menteri Perdagangan China Zhong Shan kemarin memperingatkan kondisi perdagangan internasional akan lebih suram tahun ini karena berkurangnya permintaan dan meningkatnya persaingan.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Jepang mulai optimis dengan prospek ekonomi
- Yunani harus gelar pemilu ulang
- Euro, cacat sejak lahir
- Pejabat Eropa bersiap kemungkinan keluarnya Yunani dari euro
- Krisis perbankan, dilema Spanyol
- Meski surplus bertambah, ekspor & impor China melambat
- Jerman ke Yunani: Langgar aturan, tak ada bantuan
- Perancis & Yunani picu era ketidakpastian baru
- Yunani berisiko keluar dari euro?
- Draghi tetap buka ruang tindakan bila diperlukan
- ECB coba bertahan di tengah tekanan
- Manufaktur China membaik, indikasi pemulihan
- RBA pangkas rate 50 bps
- Spanyol dalam jeratan resesi
- BOJ tambah stimulus moneter



