Ekonomi China, menuju kedigdayaan, atau kehancuran?

Tanggal March 29, 2010 / 9:24 am. Oleh: Nizar Hilmy Jakarta, Strategydesk - Di saat ekonomi AS dan Eropa berjuang melepaskan diri dari jeratan krisis terburuknya dalam 70 tahun terakhir, ekonomi China sedang menikmati pertumbuhan yang, hingga saat ini, terpesat di dunia.
Aktivitas perdagangannya terus mengesankan, di mana ekspor melonjak 17,7% per tahun di Desember, dan berhasil menggeser posisi Jerman sebagai eksportir terbesar dunia. Di bulan yang sama, penjualan kendaraan melonjak 88,7%, menggeser posisi AS sebagai pasar otomotif terbesar dunia.
Cadangan devisanya mencapai $2 triliun, terbesar di dunia. China adalah satu-satunya negara di dunia di mana pertumbuhan ekonomi di bawah 8% dianggap berbahaya karena dapat memicu gejolak sosial. Sebagian besar negara di dunia ini hanya bermimpi untuk bisa tumbuh seperti itu. Berdasarkan prediksi Bank Dunia, China bisa menggeser Jepang sebagai ekonomi terbesar kedua dunia.
Menurut proyeksi pemerintah, pertumbuhan ekonomi tahunan bisa mencapai 12% di kuartal pertama tahun ini. Melihat prestasi dan kinerja yang mengagumkan tersebut, tentu semakin banyak kalangan yang semakin optimis dengan prospek ekonomi China.
Namun, tidak sedikit pula yang berpandangan berbeda, memprediksikan ekonomi bisa memanas (overheating) atau sedang menuju koreksi besar yang dapat mengancam pemulihan ekonomi global. Salah satu orang yang paling vokal dalam memprediksikan keruntuhan ekonomi China adalah Jim Chanos, yang pernah berhasil meraup keuntungan besar dengan memprediksikan keruntuhan Enron. Menurutnya, China sedangkan menuju crash, bukannya booming seperti yang diperkirakan banyak ekonom. 
Chanos berencana bertaruh melawan China dengan melakukan short selling saham di negara itu, seperti yang ia pernah lakukan dengan saham Enron. Meski pemerintah China membatasi kepemilikan asing dalam saham lokal, Chanos mengatakan akan mencari celah untuk mewujudkan pertaruhannya.
Ia menggambarkan sektor properti china yang sedang merekah, ditopang oleh arus dana spekulatif, seperti 1000 kali Dubai, bahkan lebih buruk. Ia bahkan mencurigai Beijing selama ini memanipulasi kinerja ekonominya, termasuk angka pertumbuhan. Ia memaparkan bahwa penggelembungan teridentifikasi lebih baik oleh kredit eksesif, bukannya valuasi eksesif, dan tidak ada kredit eksesif lebih besar dari yang sedang terjadi di China.
Mengantisipasi dampak krisis ekonomi global, Beijing meluncurkan stimulus fiskal dan moneter. Pemerintah meluncurkan stimulus fiskal senilai 4 triliun yuan, sedangkan Bank Sentral (PBOC) memberlakukan program kredit mudah. Pada minggu pertama Januari saja, kucuran kredit mencapai 600 miliar yuan, atau hampir dua kali lipat rata-rata mingguan di semester pertama 2009. Data lain menunjukan perkreditan mencapai $1,5 triliun selama 11 bulan pertama 2009. 
Secara garis besar, kalangan yang skeptis dengan China, atau yang disebut dengan China Bears, memandang China mirip dengan Jepang sebelum keruntuhan saham dan pasar propertinya dua dekade lalu.  Menurut mereka, seperti sektor perumahan AS sebelum krisis, banyak pengembang di China yang berutang dan amat bergantung dengan bunga rendah dan kenaikan harga. Pada akhirnya, sektor properti akan meledak (burst) dan kredit macet melonjak,  Mereka memandang ekonomi China lebih dipacu oleh stimulus yang sebagian besar uangnya lari ke kegiatan spekulatif dan produksi barang berlebihan yang tidak terjual.
Pandangan mereka tentunya mendapat tentangan dari kalangan yang optimistis, atau yang disebut China bulls. Salah satu yang bullish dengan prospek China adalah Jim Rogers, investor komoditas kawakan. Rogers menganggap Chanos kurang memahami fundamental ekonomi China yang dianggap Rogers dalam pondasi yang kuat. 
Thomas L. Friedman, seorang kolumnis New York Times dan pemenang Pulitzer, juga mengkritik pandangan Chanos. Menurut Friedman, jangan pernah bertaruh melawan negara yang punya cadangan devisa $2 triliun. Selain itu, China punya tingkat simpanan (savings) yang tinggi.
Para China Bulls lain menyorot karakteristik kebijakan ekonomi dan sektor properti China. Mereka berargumen Pemerintah China selalu mengawasi pasar dan tidak dijalankan oleh orang-orang pemuja pasar bebas seperti Alan Greenspan. Mengenai sektor propertinya, berbeda dengan AS, tidak ada praktik model subprime mortgage di China.  Untuk bisa membeli properti, konsumen harus membayar uang muka sebesar 30% sebelum mengambil KPR.  Selain itu, mortgage tidak dikemas dan dijual lagi dalam bentuk sekuritas. 
Apakah China sedang menuju kedigdayaan dan memimpin pemulihan ekonomi global, atau kehancuran yang akan membawa bencana ke dunia? Jawabannya terletak pada kemampuan pemerintah mengatasi tantangan, ancaman dan efek samping dari kebijakan yang dijalaninya selama ini.
Perlu diingat, beberapa faktor penyebab krisis ekonomi di AS adalah kurangnya regulasi dan pengawasan terhadap sektor keuangan dan keterlambatan pemerintah melihat sinyal dan mengambil tindakan.


Pencarian Data

Masukkan kata kunci yang ingin Anda cari

Statistic

eXTReMe Tracker

Advertisement

  • Ezydeal

    Ayo trading menggunakan ezydeal. Buka free account