Data China, gejolak Timteng angkat minyak
Jakarta, Strategydesk - Minyak naik tajam dalam perdagangan awal tahun hari ini, didorong oleh data ekonomi positif dari China dan India, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Aktivitas manufaktur di China dan India membaik bulan lalu, menunjukkan kedua negara itu masih mampu bertahan meski Eropa diterpa krisis. Indeks PMI China naik ke 50,3 di Desember dari 49 di Nopember, menurut data yang diumumkan oleh China Federation of Logistics and Purchasing (CFLP) pada Minggu. Sedangkan indeks PMI India naik ke 54,2 di Desember, tertinggi dalam enam bulan terakhir, dari 51 di bulan sebelumnya, menurut laporan HSBC Holdings dan Markit Economics kemarin. Angka di atas 50 menandakan pertumbuhan, di bawah itu berarti kontraksi.
China dan India merupakan di antara negara pengguna energi terbesar di dunia, perkembangan ekonomi negara itu amat mempengaruhi harga. China mengkonsumsi sekitar 11% output minyak dunia, sedangkan India 4%. AS masih menjadi konsumen terbesar dengan 21%.
Minyak juga naik setelah Deputi Komandan AL Iran Admiral Mahmoud Mousavi mengatakan Iran siap merespon setiap upaya menghancurkan kepentingan Iran. Kemarin Iran menguji rudal di Selat Hormuz dalam hari terakhir latihan perangnya, menunjukkan keseriusan ancamannya untuk menutup jalur distribusi minyak terpenting dunia itu.
Drama ini menunjukkan memanasnya ketegangan antara kedua negara. Iran, produsen minyak terbesar keempat dunia, sedang terancam menghadapi sanksi tambahan dari Barat karena tidak mau menghentikan program nuklirnya. Barat menuduh Iran sedang mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang berulang kali dibantahnya.
Pada jam 12:10 WIB, minyak jenis Light Sweet untuk pengiriman Februari melonjak $1,70 ke $100,53 per barel. Sedangkan minyak jenis Brent untuk bulan yang sama rally $1,32 jadi $108,70 per barel.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Isu Eropa bawa minyak ke $92
- Minyak tenggelam karena Yunani, data API
- Krisis Yunani masih tekan minyak
- Minyak anjlok, ke level terendah dalam 6 bulan
- Minyak anjlok lagi, ditekan Eropa & data China
- Minyak turun, ditekan data EIA
- Data API makin benamkan minyak
- Minyak anjlok ke $97
- Antisipasi payroll, minyak anjlok
- Minyak turun karena data EIA, ADP
- May Day, minyak tak banyak gerak
- Minyak turun setelah S&P pangkas rating Spanyol
- Minyak naik, dibantu data API
- Minyak turun karena data Eropa, China
- Isu pasokan topang minyak



