Data buruk, yen justru menguat
Jakarta, Strategydesk - Yen menguat terhadap dollar hari ini meski setelah serangkaian data buruk dari Jepang, dan pejabat pemerintah kembali menegaskan niatnya melemahkan mata uang bila diperlukan.
Output industri turun 2,6% selama bulan itu, lebih besar dari proyeksi 0,8%, dan menyusul kenaikan 2,2% di Oktober, data pemerintah menunjukkan hari ini. Secara tahunan, produksi industrial jatuh 4,0%, lebih besar dari prediksi 2,0% dan menyusul kenaikan 0,1% di Oktober.
Pemerintah juga mengumumkan penjualan ritel ternyata turun 2,3% selama Nopember dari tahun lalu, mengindikasikan kekhawatiran mengenai kondisi ekonomi mempengaruhi pembelanjaan konsumen. Data lainnya memperlihatkan inflasi selama Nopember turun 0,5% dari tahun lalu. Sedangkan inflasi inti, di luar makanan dan energi, turun 1,1%. Hal ini mengindikasikan bahwa Jepang masih di jerat deflasi.
Pemerintah juga mengatakan tidak akan mengubah rencananya untuk mengambil langkah di pasar mata uang bila diperlukan. Pernyataan ini datang setelah AS mengkritik Jepang, dalam laporan Departemen Keuangan, karena mengintervensi apresiasi yen terhadap dollar.
Yen juga menguat setelah yield Italia naik menjelang lelang obligasinya bernilai 11,5 miliar euro. Italia berencana menjual 9 miliar euro bill 179 hari dan 2,5 miliar euro obligasi tenor 2 tahun. Pada jam 16:30 WIB, yen diperdagangkan di 77,68 per dollar, menguat dari level penutupan New York dini hari tadi 77,86.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Aussie masih bearish, sempat tembus paritas
- Setelah anjlok, euro coba bangkit
- Euro, franc melesat atas dollar
- Inggris resesi lagi, sterling koreksi
- Inflasi melambat tajam, aussie anjlok
- Data ritel makin lambungkan sterling
- RBA, isu Eropa tekan aussie
- Yen rally setelah BOJ
- Sterling melaju berkat data PMI
- Eksportir Jepang angkat yen
- BOE Minutes, laporan defisit tekan sterling
- Isu ekonomi China hantam aussie
- Dollar rally, yen terus melorot
- Data bagus, euro tetap lunglai
- Aussie koreksi jelang data, RBA



