Dapatkah QE 2 pulihkan ekonomi AS?
Jakarta, Strategydesk - Setelah rapat dua hari, the Fed akhirnya mencanangkan stimulus moneter, atau Quantitative Easing (QE), jilid kedua. Namun, apakah program kali ini berhasil menggairahkan ekonomi AS?
The Fed memutuskan untuk mengucurkan sekitar $600 miliar untuk membeli obligasi pemerintah dalam delapan bulan ke depan, atau $75 miliar per bulan. Sebenarnya, ini merupakan tambahan dari rencana pembelian sekitar $250-$300 miliar, atau $35 per bulan, yang sudah diputuskan sebelumnya. Jadi, total pembelian aset mencapai $900 miliar.
Program tersebut ditujukan untuk menekan suku bunga KPR dan pinjaman jangka panjang lainnya, yang akhirnya dapat merangsang ekonomi dan mengurangi pengangguran.
Bagaimana mekanismenya? Suku bunga rendah secara teori dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dengan karena perusahaan, atau konsumen, akan semangat untuk meminjam dan berbelanja. Secara teori, meningkatnya permintaan obligasi akan membuat bunga turun. Jadi, bila the Fed datang dengan pembelian yang besar, suku bunga dapat ditekan.
The Fed mengatakan akan membeli obligasi berjangka waktu 5-7 tahun. Dengan ini, the Fed berupaya menekan suku bunga jangka panjang. Bila suku bunga jangka panjang rendah, hal ini bisa mendorong perusahaan untuk menerima tenaga kerja atau membuka pabrik baru, yang merupakan komitmen jangka panjang. Diperlukan bertahun-tahun untuk suatu pabrik baru dapat menghasilkan laba. Jadi pinjaman jangka panjang dengan bunga rendah, seharusnya dapat menggairahkan sektor riil.
Namun, mungkinkan semua bisa semulus itu? Sebagian kalangan yang khawatir langkah the Fed ini tidak akan berdampak banyak ke ekonomi karena suku bunga saat ini sudah nol. Ada yang mencemaskan pembelian obligasi bisa mendorong inflasi terlalu tinggi dalam jangka panjang dan memicu pembelian spekulatif ke aset lain seperti saham, yang akhirnya dapat menyebabkan penggelembungan (bubble).
Beberapa pengamat juga mengkritik langkah ini dapat menggerus nilai dollar, yang akhirnya juga dapat mendorong inflasi. Selain mengancam dollar, langkah ini juga dianggap tidak akan banyak membantu investasi bisnis, dan sektor perumahan yang diperkirakan masih akan dirundung kredit macet sampai beberapa tahun ke depan.
Meski demikian, tidak semua pesimis dengan langkah the Fed itu. Beberapa ekonom melihat peluang langkah ini dapat membuahkan hasil. Namun, mereka menekankan likuiditas harus benar-benar tersalurkan ke sektor riil dari sektor keuangan. Menurut mereka, salah satu penyebab stimulus moneter pertama kurang berhasil adalah uang tidak sepenuhnya mengalir ke sektor riil.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Pemilu Yunani & euro
- Jadwal Earnings Jepang 30 Januari - 10 Februari 2012
- Jadwal Libur Pasar Keuangan AS, Asia 2012
- ECB terseret polemik krisis
- Bayang-bayang Lehman Brothers hantui politisi & bankir Eropa
- Negara pengutang terbesar di dunia
- Yunani sebaiknya keluar dari euro?
- Krisis utang Eropa yang belum juga tuntas
- Even penting minggu ini: RBA, BOJ, BOE & ECB
- Kaleidoskop 2010: Krisis utang Eropa
- Dapatkah QE 2 pulihkan ekonomi AS?
- The Fed bersiap luncurkan stimulus (lagi)?
- Akankah Jepang intervensi yen?
- Prospek ekonomi Eropa lebih baik dari AS?
- Pasar sambut earnings season



