Bursa Asia masih tertekan
Jakarta, Strategydesk - Saham Asia bertumbangan karena kecemasan mengenai kondisi ekonomi global. Selain itu, karena kekecewaan pelaku pasar terhadap data perumahan AS semalam, yang diperkirakan akan memperparah perlambatan ekonomi terbesar dunia itu.
Indeks Nikkei jatuh dan kini bergerak di bawah level 9.000 di tengah penguatan yen. Indeks Hang Seng dan Kospi pun diperkirakan juga masih merosot.
Namun, ada isu mengenai pertemuan darurat Bank Sentral Jepang (BOJ) hari ini, kemungkinan dapat membatasi jatuhnya bursa Asia. Selain itu, pelaku pasar juga terfokus pada serangkaian data Eropa dan AS, seperti survey sentimen bisnis (IFO) Jerman, Durable Goods yang diperkirakan naik, dan penjualan rumah baru (new home sales) diekspektasikan stabil.
Nikkei Futures Kontrak September (SSIU0)
Indeks Nikkei anjlok ke level terendah dalam 15 bulan terakhir di bawah 9.000 kemarin, menyusul penguatan yen yang mendekati kembali level terendah dalam 15 tahun terakhir. Penguatan yen memicu aksi jual besar-besaran saham eksportir seperti Sony dan Nikon di tengah kekecewaan pasar atas sikap pasif pemerintah terhadap apresiasi mata uang dan masalah deflasi. Indeks Nikkei .N225 ditutup melemah 121,55 poin, atau 1,33%, di 8995,14.
Penguatan yen ke level terendahnya dalam 15 tahun terakhir dan tergerusnya Wall Street, diperkirakan akan membawa indeks Nikkei untuk menguji level terendah dalam 16 bulan. Semakin meningkatnya kecemasan pasar akan perlambatan ekonomi global, pasca rilisan data penjualan rumah AS yang di bawah ekspektasi menekan sentiment pasar.
Kospi Futures Kontrak September (KSU0)
Sementara itu di Korsel, indeks Kospi juga berakhir negatif kemarin, mengikuti arus regional di tengah minimnya katalis. Selain itu, kecemasan mengenai ekonomi global masih menyelimuti pasar. Indeks Kospi KS11 ditutup melemah 7,18 poin, atau 0,41%, di 1.760,53.
Kecemasan akan perlambatan ekonomi global, membawa indeks Kospi untuk tetap bertahan di zona merah. Kondisi tersebut membebani kinerja saham ekspor Seoul, pasca buruknya data penjualan rumah bekas AS. Disamping itu pasar juga mengkhawatirkan akan data AS lainnya yang dirilis minggu ini seperti PDB, bilamana data tersebut kembali buruk, menjadi presedir buruk bagi ekonomi global.
Hang Seng Futures Kontrak Agustus (HSIQ0)
Indeks Hang Seng berakhir melemah kemarin, terbawa arus regional yang negatif, karena kecemasan mengenai kondisi ekonomi global. Selain itu, kejatuhan harga minyak menekan saham energy. Saham energi seperti China Resources Enterprise dan Chine Petroleum Chemical (Sinopec). Indeks Hang Seng .HSI ditutup melemah 92,81 poin, atau 0,44%, di 20.889,01.
Tumbangnya kinerja bursa regional diperkirakan masih menjadi motor penggerak Hang Seng pasca anjlok Wall Street karena buruknya serangkaian data AS. Sejumlah sentimen negatif menjadi alasan bagi pelaku pasar melakukan aksi jual. Namun, penurunan kali ini diperkirakan terbatas, menyusul ekspektasi akan adanya aksi bargain hunting setelah kejatuhan beberapa perdagangan sebelumnya.
Rekomendasi
NIKKEI
KOSPI
HANG SENG
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Krisis Eropa kembali menggelayuti regional
- Regional rally berkat data AS
- Wall Street flat, regional menanti payroll
- Data manufaktur angkat regional
- Data AS mengecewakan, regional tertekan
- Wall Street koreksi tipis, regional range terbatas
- Dow koreksi, regional fokus pertemuan Uni Eropa
- Data AS giring koreksi bursa Asia
- Pasca FOMC, bursa Asia masih positif
- Apple Hijaukan Regional
- Fokus Menkeu Eropa, Nikkei menguat
- Laju Nikkei tertahan
- Sentimen Positf Eropa & AS, bursa Asia melaju
- IMF, Goldman Sach Hijaukan Asia
- Penguatan Asia Mulai Terbatasi



