Bayang-bayang Lehman Brothers hantui politisi & bankir Eropa
Jakarta, Strategydesk - Di saat politisi dan bankir Eropa menghadapi krisis utang, mereka dihantui oleh bayang-bayang insiden Lehman Brothers. Kebangkrutan bank investasi Wall Street di musim panas 2008 itu mengubah yang awalnya krisis finansial domestik di AS menjadi darurat global yang merontokkan ekonomi dunia, termasuk di Eropa.
Para pemimpin Eropa tentunya menyadari keterkaitan sistem finansial global. Mereka mengatakan berkomitmen untuk tidak melakukan kesalahan sama, yang dalam pandangan mereka, dilakukan pemerintahan Bush dan the Fed ketika tidak mencegah kebangkrutan Lehman Brothers pada September 2008.
Bayang-bayang Lehman selalu hadir dalam negosiasi di antara pejabat top Eropa, bank sentral dan investor obligasi negara lemah seperti Yunani mengenai bagaimana mencegah bencana default. “Ingat 2008, ketika AS membiarkan Lehman Brothers runtuh, sistem finansial global yang kena imbasnya,” kata Presiden Perancis Nicolas Sarkozy bulan lalu. “Untuk alasan ekonomi dan moral, kita tidak boleh membiarkan Yunani bangkrut.”
Kanselir Jerman Angela Merkel juga menyampaikan hal senada dalam wawancara di TV bulan lalu.”Kita tidak bisa menghancurkan kepercayaan investor dalam prosesnya.” Presiden ECB Jean-Claude Trichet, mengatakan pernah memperingatkan pejabat AS tiga tahun lalu membiarkan Lehman bangkrut “amatlah membahayakan.” Kini ia mendesak semua pihak untuk mencegah hal yang sama selagi ia masih memimpin.
Salah satu hikmah dari kasus Lehman adalah, kegagalan satu perusahaan saja (saat itu Lehman adalah bank investasi terbesar keempat AS) bisa menyebabkan efek domino yang begitu mencengangkan. Menjelang kebangkrutannya, Lehman menderita miliaran dollar kerugian dalam bisnis kredit properti, termasuk hotel dan perkantoran.
Karena cemas mengenai skala kerugian, investor menjadi enggan menyediakan pinjaman jangka pendek yang dibutuhkan Lehman dan bank investasi lainnya untuk pembiayaan. Tanpa akses ke dana dan bantuan dari pemerintah, Lehman mengajukan perlindungan kebangkrutan pada 14 September 2008, menjadi korban kasus klasik kepanikan perbankan.
Kebangkrutannya menyebabkan serangkaian efek tak terduga. Contohnya, sebuah reksa dana ternama yang menanamkan uangnya ke Lehman mengalami kerugian begitu besar hingga membuat sahamnya jatuh ke bawah $1. Hal ini mendorong penarikan dana besar-besaran dan penjualan instrumen keuangan. Alhasil, semakin sulit bagi perusahaan yang mengandalkan pinjaman seperti ini, seperti General Electric, untuk membiayai operasionalnya. Pasar keuangan dunia terguncang.
Dalam kasus Lehman, bank besar lain yang berbisnis dengannya juga mengalami kerugian karena kebangkrutan itu. Itu sudah cukup buruk. Tapi dampak ternyata semakin besar karena tidak ada yang tahu bank mana lagi yang menderita rugi besar dan berisiko gagal. Tidak jelas siapa lagi yang tereksposur, pinjaman antar bank macet, hancurlah pondasi dasar yang menopang sistem finansial.
Default Yunani bisa menimbulkan efek yang sama. Bank di seluruh Eropa akan menderita kerugian besar karena memegang obligasi Yunani dalam jumlah substansial. Tapi tidak ada yang tahu secara persis seberapa besar jumlah kerugian dan bank mana yang terancam gagal. Bagaimanapun, likuiditas akan kembali paceklik.
Bila Yunani gagal, investor akan ketakutan negara Eropa lainnya, yang kondisi keuangannya morat-marit seperti Portugal dan Irlandia, dan ekonomi besar seperti Italia dan Spanyol bahkan Perancis, juga bernasib sama. Nabasah bank di semua negara itu akan menarik uang mereka. Ini bisa memicu rush yang akhirnya menyebabkan bank kolaps dan ekonomi terjerumus krisis.
Tak mau itu terjadi, politisi dan bankir menempuh berbagai upaya untuk mencegah Yunani gagal bayar utang. Tapi, kesadaran default Yunani harus dihindari, ironisnya, juga mempersulit upaya untuk menyelamatkan negara itu. Investor obligasi Yunani, yang mencakup bank besar Eropa, tahu pejabat pemerintah di Jerman, Perancis dan lainnya teguh untuk mencegah skenario yang dapat meluluhlantahkan pasar keuangan global, dan ini pada akhirnya membuat mereka, mau tak mau, harus mem-bailout Yunani.
Jadi, investor tidak punya banyak alasan untuk berkonsesi menerima haircut (diskon) investasi mereka dalam obligasi Yunani itu. Dengan kata lain, bank lebih senang untuk membiarkan pembayar pajak Jerman atau Perancis yang menanggung kerugian, bukannya mereka. Inilah yang menjadi salah satu ganjalan dalam proses menyelesaikan krisis Yunani.
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Jadwal Earnings Jepang 30 Januari - 10 Februari 2012
- Jadwal Libur Pasar Keuangan AS, Asia 2012
- ECB terseret polemik krisis
- Bayang-bayang Lehman Brothers hantui politisi & bankir Eropa
- Negara pengutang terbesar di dunia
- Yunani sebaiknya keluar dari euro?
- Krisis utang Eropa yang belum juga tuntas
- Even penting minggu ini: RBA, BOJ, BOE & ECB
- Kaleidoskop 2010: Krisis utang Eropa
- Dapatkah QE 2 pulihkan ekonomi AS?
- The Fed bersiap luncurkan stimulus (lagi)?
- Akankah Jepang intervensi yen?
- Prospek ekonomi Eropa lebih baik dari AS?
- Pasar sambut earnings season
- Apakah euro menuju paritas dollar?



