Bank Dunia: Asia Timur mampu lewati krisis global

Tanggal November 22, 2011 / 2:30 pm. Oleh: Nizar Hilmy

Jakarta, Strategydesk - Pertumbuhan di Asia Timur akan melambat tahun depan karena permintaan dari pasar ekspor utama di AS dan Eropa merosot  di saat keduanya berkutat dengan masalah utang.

Bank Dunia mempertahankan proyeksi pertumbuhan Asia Timur tapi memperingatkan meningkatnya risiko termasuk dari krisis utang Eropa dan ketidakpastian akan pemulihan manufaktur Thailand dari bencana banjir.

Meski demikian, melimpahnya cadangan devisa dan surplus transaksi berjalan akan menopang Asia Timur dari efek krisis finansial global. Ditambah lagi China mampu menyerap sebagian permintaan yang berkurang dari AS dan Eropa. Menurut lembaga itu, kawasan Asia Timur, termasuk China, Indonesia, Malaysia, Filiphina, Thailand, Vietnam dan Kamboja, punya cadangan devisa di luar emas, $4,9 triliun sampai akhir September. China sendiri saja punya $3,2 triliun.

Berkurangnya kredit dari bank Eropa bisa mempengaruhi arus modal ke Asia Timur. Tapi cadangan devisa dan surplus transaksi berjalan yang melimpah dapat melindungi negara di kawasan itu terhadap dampak gejolak finansial baru yang mungkin terjadi,” kata Bert Hoffman, chief economist Bank Dunia.

Dalam laporan per semesternya mengenai 11 ekonomi Asia Timur dan Pasifik, yang dipublikasikan hari ini, lembaga itu memproyeksikan pertumbuhan sebesar 8,2% tahun ini dan 7,8% tahun depan, tidak berubah dari prediksi sebelumnya di April.

Pertumbuhan di Raksasa Asia Timur, China, diperkirakan melambat ke 9,1% tahun ini dan 8,4% tahun depan setelah melesat 10,4% tahun lalu. Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan Thailand menjadi 2,4% untuk 2011 karena kerusakan pabrik otomotif dan elektronik akibat banjir selama berbulan-bulan. Untuk tahun depan, pertumbuhan diperkirakan 4%.

Pencarian Data

Masukkan kata kunci yang ingin Anda cari

Statistic

eXTReMe Tracker

Advertisement

  • Ezydeal

    Ayo trading menggunakan ezydeal. Buka free account