Apakah euro menuju paritas dollar?
Tanggal May 21, 2010 / 8:38 am. Oleh: Nizar Hilmy
Jakarta, Strategydesk - Euro kini bangkit dari level terendahnya dalam 4 tahun terakhir terhadap dollar, rival utamanya. Namun, rebound-nya itu belum menghapusnya dari daftar mata uang terburuk tahun ini.
Selain itu, mata uang tunggal Eropa tersebut terancam semakin terpuruk karena suramnya prospek ekonomi kawasan itu di tengah lilitan masalah fiskal dan program pengetatan anggaran yang dicanangkan untuk mengatasi masalah itu.
Program pengetatan anggaran yang disyaratkan untuk mendapat pinjaman Uni Eropa dan IMF, bisa menjerumuskan Eropa kembali ke resesi. Hal ini menegaskan euro tidak akan menemukan momentumnya dalam waktu dekat. Situasi ini semakin mendukung argumen euro bisa mencapai paritas dengan dollar.
Situasi fiskal dan program pengetatan menambah kasus bagi euro untuk menjadi mata uang yang lemah secara fundamental. Ditambah dengan ketidakjelasan kebijakan dan pernyataan pejabat Eropa, yang menambah kebingungan pasar.
Euro sempat rebound berkat spekulasi ECB akan melakukan intervensi untuk meredam kejatuhannya. Namun, ECB menolak berkomentar soal itu, yang membuatnya tetap hanya spekulasi.
Euro rebound dari level terendahnya dalam 4 tahun terakhir. Euro anjlok ke level itu setelah Jerman memberlakukan larangan short selling terhadap beberapa sekuritas. Di saat pelarian modal keluar dari Eropa, karena krisis fiskal, larangan itu sepertinya tidak akan efektif bila tidak dijalankan dalam skala Eropa atau global. Selain itu, karena credit default swap diperdagangkan secara pribadi, bukan dalam sebuah bursa, larangan ini tidak akan banyak berdampak.
Menurut BNP Paribas, euro akan jatuh ke paritas dollar pada awal tahun depan. Investor asing cemas dengan kekacauan yang dibuat politisi Eropa dan diperlukan waktu untuk memperbaiki kerusakannya. Hal senada juga disampaikan oleh analis dari CLSA.
Karena opsi fiskal belum menunjukan hasil yang diharapkan, cepat atau lambat ECB akan terpaksa turun tangan. Namun, Presiden ECB Jean-Claude Trichet belum memberi kesan bantuannya akan datang dengan cepat.
Lagi pula, bukankah pelemahan euro justru mendorong ekspor, yang akhirnya bisa membantu pemulihan ekonomi? Banyak juga kalangan yang menuduh sebenarnya Eropa menginginkan euro melemah, terutama negara yang amat bergantung dengan ekspor, seperti Jerman.Kalau memang seperti itu, seberapa jauh mereka bisa mentoleransi kejatuhannya.
Pelemahan mata uang seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, bisa mendorong ekspor, yang akhirnya dapat membantu pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, bisa menambah nilai impor, yang akhirnya dapat mendorong inflasi.
Menurut analis, euro, yang kini bergerak antara $1,24-1,26, masih di atas paritas daya beli (purchasing power parity), atau tingkat keseimbangan pembelanjaan. Mereka memandang, nilai yang seimbang (fair value) untuk euro adalah $1,20
Selain itu, mata uang tunggal Eropa tersebut terancam semakin terpuruk karena suramnya prospek ekonomi kawasan itu di tengah lilitan masalah fiskal dan program pengetatan anggaran yang dicanangkan untuk mengatasi masalah itu.
Program pengetatan anggaran yang disyaratkan untuk mendapat pinjaman Uni Eropa dan IMF, bisa menjerumuskan Eropa kembali ke resesi. Hal ini menegaskan euro tidak akan menemukan momentumnya dalam waktu dekat. Situasi ini semakin mendukung argumen euro bisa mencapai paritas dengan dollar.
Situasi fiskal dan program pengetatan menambah kasus bagi euro untuk menjadi mata uang yang lemah secara fundamental. Ditambah dengan ketidakjelasan kebijakan dan pernyataan pejabat Eropa, yang menambah kebingungan pasar.
Euro sempat rebound berkat spekulasi ECB akan melakukan intervensi untuk meredam kejatuhannya. Namun, ECB menolak berkomentar soal itu, yang membuatnya tetap hanya spekulasi.
Euro rebound dari level terendahnya dalam 4 tahun terakhir. Euro anjlok ke level itu setelah Jerman memberlakukan larangan short selling terhadap beberapa sekuritas. Di saat pelarian modal keluar dari Eropa, karena krisis fiskal, larangan itu sepertinya tidak akan efektif bila tidak dijalankan dalam skala Eropa atau global. Selain itu, karena credit default swap diperdagangkan secara pribadi, bukan dalam sebuah bursa, larangan ini tidak akan banyak berdampak.
Menurut BNP Paribas, euro akan jatuh ke paritas dollar pada awal tahun depan. Investor asing cemas dengan kekacauan yang dibuat politisi Eropa dan diperlukan waktu untuk memperbaiki kerusakannya. Hal senada juga disampaikan oleh analis dari CLSA.
Karena opsi fiskal belum menunjukan hasil yang diharapkan, cepat atau lambat ECB akan terpaksa turun tangan. Namun, Presiden ECB Jean-Claude Trichet belum memberi kesan bantuannya akan datang dengan cepat.
Lagi pula, bukankah pelemahan euro justru mendorong ekspor, yang akhirnya bisa membantu pemulihan ekonomi? Banyak juga kalangan yang menuduh sebenarnya Eropa menginginkan euro melemah, terutama negara yang amat bergantung dengan ekspor, seperti Jerman.Kalau memang seperti itu, seberapa jauh mereka bisa mentoleransi kejatuhannya.
Pelemahan mata uang seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, bisa mendorong ekspor, yang akhirnya dapat membantu pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, bisa menambah nilai impor, yang akhirnya dapat mendorong inflasi.
Menurut analis, euro, yang kini bergerak antara $1,24-1,26, masih di atas paritas daya beli (purchasing power parity), atau tingkat keseimbangan pembelanjaan. Mereka memandang, nilai yang seimbang (fair value) untuk euro adalah $1,20
Pencarian Data
Masukkan kata kunci yang ingin Anda cariBERITA LAINNYA
- Jadwal Earnings Jepang 30 Januari - 10 Februari 2012
- Jadwal Libur Pasar Keuangan AS, Asia 2012
- ECB terseret polemik krisis
- Bayang-bayang Lehman Brothers hantui politisi & bankir Eropa
- Negara pengutang terbesar di dunia
- Yunani sebaiknya keluar dari euro?
- Krisis utang Eropa yang belum juga tuntas
- Even penting minggu ini: RBA, BOJ, BOE & ECB
- Kaleidoskop 2010: Krisis utang Eropa
- Dapatkah QE 2 pulihkan ekonomi AS?
- The Fed bersiap luncurkan stimulus (lagi)?
- Akankah Jepang intervensi yen?
- Prospek ekonomi Eropa lebih baik dari AS?
- Pasar sambut earnings season
- Apakah euro menuju paritas dollar?



